Perundingan teknis antara Iran dan Amerika Serikat yang dimediasi Pakistan dan Qatar di Swiss nyaris berantakan setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman baru.

Pertemuan digelar di resor Burgenstock, Swiss, pada Minggu (21/6/2026) sebagai bagian dari implementasi memorandum perdamaian yang baru ditandatangani kedua negara.

in1

>>> Roy Suryo dan dr Tifa Tak Ditahan, Jokowi: Itu Kewenangan Kejaksaan

Namun suasana berubah ketika Trump melalui Truth Social memperingatkan akan kembali menyerang Iran jika Teheran tidak mengendalikan kelompok sekutunya di Lebanon.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeli Baghaei, mengungkapkan delegasi Iran mengetahui pernyataan Trump saat perundingan memasuki masa jeda.

Menurut Baghaei, kabar ancaman diterima sekitar pukul 16.30 waktu setempat ketika peserta sedang menghentikan sementara pembicaraan untuk konsultasi internal.

Reaksi Iran muncul cepat. Delegasi Iran menyatakan tidak akan melanjutkan pertemuan empat pihak yang melibatkan Iran, AS, Pakistan, dan Qatar.

“Namun, para perantara terus bertukar pernyataan,” kata Baghaei kepada IRNA, membantah anggapan bahwa ancaman Trump tidak memengaruhi negosiasi.

>>> Raffi Ahmad Resmi Bawa RANS IPO, Target Dana Rp429 Miliar

Iran menegaskan proses komunikasi tidak sepenuhnya terputus karena mediator tetap menjaga dialog tetap terbuka.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance memberikan versi berbeda, menyebut delegasi Iran tidak meninggalkan perundingan.

Perbedaan narasi ini menunjukkan betapa sensitifnya hubungan Iran-AS saat ini, hanya beberapa hari setelah kedua negara menandatangani memorandum penghentian konflik pada 18 Juni 2026.

Dalam memorandum tersebut, AS setuju mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran berkomitmen memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.

>>> Kim Jong Un dan Xi Jinping Tuding Jepang Bangkitkan Militerisme

Kesepakatan itu sempat dipandang sebagai sinyal positif, namun ancaman baru Trump memperlihatkan jalan menuju perdamaian masih jauh dari stabil.