Kasus dugaan penerimaan uang oleh pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bung Karno (UBK) terungkap dalam forum mahasiswa yang digelar pada Senin (22/6/2026).

Forum tersebut dipicu oleh perpecahan di antara BEM FISIP, BEM FH, BEM FEB, dan BEM Fakultas Teknik setelah pertemuan sejumlah pengurus BEM dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

in1

>>> 5 Lampu Emergency Awet untuk Pemadaman Listrik, Ada yang Tahan 50 Jam

Pertemuan dengan Wapres Gibran memicu kecurigaan luas di kalangan mahasiswa. Desakan transparansi mengalir deras melalui media sosial.

"Pertemuan mereka dengan Wakil Presiden Gibran memicu banyak pertanyaan, seperti bagaimana mereka bisa bertemu, mengapa mereka mau bertemu, dan mengapa Gibran memilih menemui mahasiswa UBK," ujar Na'ilah Panrita Hartono, mahasiswa Fakultas Hukum UBK, Selasa (23/6/2026).

Akibat tekanan yang semakin kuat, para BEM akhirnya sepakat menggelar forum terbuka.

BEM FISIP dan BEM Teknik hadir lebih dulu, sementara BEM FH dan BEM FEB datang terlambat karena rapat internal.

Ketua BEM FH, Muhammad Abdimaludin, tidak hadir sejak awal forum. Mahasiswa yang sudah berkumpul semakin geram dan mendesak agar Abdi, sapaan akrabnya, segera datang memberikan penjelasan.

"Mahasiswa menuntut agar Abdi dihadirkan karena sudah beredar kabar bahwa dirinya menerima sejumlah uang," kata Na'ilah.

Abdi akhirnya datang bersama beberapa rekannya dan mengakui menerima uang dari seorang polisi berinisial A'an.

Uang tersebut diduga agar aksi mahasiswa dipindah dari Istana Negara ke gedung DPR RI.

>>> Samsung Display Mulai Produksi Panel OLED untuk iPhone Lipat Pertama Apple

"Menurut keterangannya, uang itu ditujukan agar Abdi dan kawan-kawan BEM tidak mengadakan aksi di depan Istana Negara, melainkan berpindah ke DPR RI," tutur Na'ilah.