Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap berada di bawah pengelolaan Teheran setelah putaran pertama perundingan dengan Amerika Serikat di Swiss.

Kesepakatan yang dicapai pada Senin (22/6) itu bertujuan mengakhiri perang dengan AS dan Israel, serta konflik Israel-Hizbullah di Lebanon.

in1

>>> Meccha Chameleon Cetak 7 Juta Kopi dalam 12 Hari, Kalahkan Crimson Desert

Kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang.

"Selat Hormuz akan dikelola oleh Republik Islam Iran sesuai dengan hukum internasional," kata Ghalibaf seperti dikutip IRNA.

Dalam video yang diunggah di Telegram, Ghalibaf menyebut pertemuan di resor Burgenstock menghasilkan capaian positif.

Ia menyebut pembahasan mencakup Selat Hormuz, isu Lebanon, pengecualian sanksi minyak, dan pembebasan dana yang dibekukan.

>>> Keith Urban Ucapkan Selamat Ulang Tahun untuk Nicole Kidman Usai Resmi Cerai

Sebagai imbalan, AS sepakat menangguhkan sanksi terhadap ekspor minyak Iran setelah Teheran mengizinkan IAEA memantau program nuklirnya.

Iran juga akan memperoleh pelonggaran sanksi dan pencairan sebagian aset yang dibekukan.

Ghalibaf menekankan bahwa ini masih tahap awal dan upaya harus dilanjutkan.

Media pemerintah Iran melaporkan Ghalibaf sempat singgah di Oman, negara yang berbagi perairan Selat Hormuz dengan Iran.

>>> 7 Krim Malam untuk Menghilangkan Flek Hitam, dari Rp89 Ribuan

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz pada Senin tetap berlangsung dan bergerak lebih cepat dibandingkan sebelum kesepakatan.