Komnas Perempuan Kritik Kebijakan Pengendalian Penduduk yang Sasar Perempuan
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mendesak pemerintah untuk mengubah pendekatan dalam kebijakan pengendalian penduduk yang dinilai masih menempatkan perempuan sebagai objek utama.
Anggota Komnas Perempuan Irwan Setiawan menyatakan bahwa kebijakan saat ini membebankan pemakaian kontrasepsi kepada perempuan untuk mencegah kehamilan.
>>> Pusat Nuklir Iran yang Dibidik Trump: Hasil Kerja Sama Rusia-China
Hal ini dianggap tidak adil dan perlu dihentikan.
"Kami mendorong pemerintah untuk menghentikan pendekatan yang menjadikan perempuan sebagai target utama dalam pengendalian penduduk.
Sangat penting untuk memperkuat tanggung jawab laki-laki dalam kesehatan reproduksi, kontrasepsi, dan bahkan dalam pengasuhan," kata Irwan di Jakarta, Rabu (15/7).
Menurut Komnas Perempuan, kebijakan yang menyasar perempuan mengindikasikan bahwa tubuh, rahim, dan pilihan reproduksi perempuan menjadi target utama.
Hal ini dapat melanggengkan anggapan bahwa reproduksi semata-mata tanggung jawab perempuan.
Dorong Kebijakan Berperspektif HAM
Anggota Komnas Perempuan Chatarina Pancer Istiyani menegaskan bahwa kebijakan kependudukan yang adil bukanlah yang mengendalikan tubuh perempuan, melainkan yang memastikan perempuan dapat menentukan tubuhnya secara merdeka, aman, bermartabat, dan setara.
>>> Kyohei Yoshino Ungkap Alasan Antusias Gabung Persija: The Jakmania Jadi Daya Tarik Besar
"Perempuan tidak boleh dipandang sebagai angka-angka yang menyangkut kesuburan, pengguna kontrasepsi, dan jumlah kehamilan," imbuhnya.
Komnas Perempuan mendorong pemerintah memperkuat perspektif hak asasi manusia dan kesetaraan gender dalam kebijakan kependudukan.
Hal ini termasuk mengintegrasikan penanganan kekerasan berbasis gender dan menghentikan pendekatan yang menjadikan perempuan sebagai objek.
Selain itu, mereka meminta layanan kesehatan seksual dan reproduksi yang berkualitas, terjangkau, dan berbasis persetujuan. Percepatan penurunan angka kematian ibu terutama di wilayah tertinggal juga menjadi perhatian.
Pembagian tanggung jawab yang setara dalam reproduksi dan pengasuhan, termasuk keterlibatan laki-laki, juga didorong. Komnas Perempuan juga mengusulkan pengembangan kebijakan ekonomi perawatan dan perlindungan sosial yang responsif gender.
>>> John Herdman Cari 23 Pemain Pendobrak di Timnas Indonesia
"Kebijakan kependudukan yang berkeadilan hanya dapat terwujud apabila perempuan diakui sebagai subjek penuh, bukan sebagai instrumen pengendalian penduduk," kata Chatarina.
Update Terbaru
Blue Beetle Kembali di Sekuel Superman Man of Tomorrow
Rabu / 15-07-2026, 16:15 WIB
SpaceX Siapkan Uji Terbang ke-13 Starship, Evercore Beri Rating Positif
Rabu / 15-07-2026, 16:15 WIB
Gelombang Panas Ekstrem Hancurkan Rekor Suhu Berusia Seabad di AS Barat
Rabu / 15-07-2026, 16:14 WIB
Disneyland Naikkan Harga Makanan di Seluruh Resor California
Rabu / 15-07-2026, 16:14 WIB
Badai Petir Parah Ancam Jerman Selatan dengan Hujan Lebat
Rabu / 15-07-2026, 16:14 WIB
Mengintip Bangkai Kapal Era Heroik Eksplorasi Antartika dengan Teknologi 3D
Rabu / 15-07-2026, 16:14 WIB
Von der Leyen Kunjungi Kyiv untuk Perkuat Integrasi Pertahanan Eropa
Rabu / 15-07-2026, 16:12 WIB
TMMIN Perluas Program Vokasi ke Lombok, Siapkan Lulusan Siap Kerja
Rabu / 15-07-2026, 16:12 WIB
Kejar Swasembada Gula, LPDB Perkuat Koperasi Petani Tebu dengan Dana Bergulir Rp22,4 Triliun
Rabu / 15-07-2026, 16:11 WIB
8 Makanan Ini Berbahaya untuk Kucing, Jangan Diberikan
Rabu / 15-07-2026, 15:45 WIB
ICW Temukan Dugaan Mark Up Pengadaan Pikap Kopdes Merah Putih
Rabu / 15-07-2026, 15:45 WIB
Cara Praktis Membuat Website Profesional Tanpa Coding Menggunakan WordPress Tahun 2026
Rabu / 15-07-2026, 15:43 WIB
Bintang NY Giants Jermaine Eluemunor Dulu Ingin Jadi Pesepakbola Profesional
Rabu / 15-07-2026, 15:42 WIB
Bintang NY Giants Jermaine Eluemunor Dulu Ingin Jadi Pesepakbola Profesional
Rabu / 15-07-2026, 15:42 WIB







