Kawasan pesisir yang terdampak intrusi air laut di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mulai dioptimalkan untuk sektor produktif melalui Program Minapadi Salin.

Program ini berpusat di Pantai Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, dan memadukan sektor pertanian serta perikanan secara terintegrasi.

>>> InJourney Airports Kembangkan Empat Bandara Demi Kejar Standar Kelas Dunia

Proyek sinergi tersebut melibatkan PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Pemerintah Kabupaten Batang.

Total area yang dioptimalkan mencapai 32,26 hektare dengan pengelolaan operasional diserahkan kepada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Barokah Mulyo, Poktan Intani, dan Poktan Dewi Sri VI.

Diversifikasi Komoditas dan Target Produksi

Masyarakat setempat tidak hanya menanam padi biosalin, tetapi juga membudidayakan ikan nila salin dan rumput laut jenis Gracilaria verrucosa.

Peluncuran program ditandai dengan penyebaran 10.000 benih ikan nila salin dan penanaman padi, serta penggunaan sekitar 30 kilogram bibit rumput laut.

Target panen perdana rumput laut diproyeksikan sekitar tiga bulan, dengan potensi produktivitas hingga 5 kilogram per kilogram bibit.

Bupati Batang M.

Faiz Kurniawan menyatakan bahwa program ini menjadi bagian dari strategi optimalisasi kawasan pesisir yang sebelumnya tidak produktif akibat kadar garam tinggi.

>>> Paola Serena Diduga Blokir Abdi Dalem Karaton Surakarta usai Teguran soal Pria Berkebaya di Malam 1 Suro

Ia mengapresiasi kolaborasi antara PGN, BRIN, dan berbagai pihak dalam menghadirkan program yang mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN RI Yopi menekankan bahwa implementasi teknologi ini membuktikan hasil riset mampu menjawab problematika salinitas di pesisir.

Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman menambahkan bahwa integrasi tiga komoditas tersebut menjadi alternatif instrumen pendapatan baru bagi warga pesisir.