PT Valbury Asia Futures mengungkap karakteristik empat aset safe haven utama, yaitu emas, yen Jepang, franc Swiss, dan dolar AS.

Masing-masing aset memiliki sensitivitas berbeda terhadap jenis krisis global.

>>> Biaya Operasional Jaecoo J5 EV Diklaim Lebih Hemat 88 Persen

Hal ini disampaikan perusahaan pada Kamis (18/6/2026).

Pergerakan modal ke aset defensif dinilai memiliki fungsi yang berbeda tergantung konteks risiko yang terjadi di pasar keuangan.

Zuifany, Public Relation PT Valbury Asia Futures, mengatakan kesalahan utama pelaku pasar bukan hanya terlambat masuk, tetapi juga salah memilih aset sesuai situasi krisis.

Peran Masing-Masing Aset Safe Haven

Emas berperan sebagai penyimpan nilai jangka panjang. Yen Jepang menjadi indikator sentimen risiko global karena pengaruh posisi carry trade.

>>> Gibran Minta Pemilihan Titik KDMP Lewat Kajian dan Libatkan Masyarakat

Franc Swiss mencerminkan stabilitas kawasan Eropa. Sementara dolar AS lebih kompleks karena dipengaruhi asal dan sifat guncangan likuiditas.

"Kekuatan USD sangat ditentukan oleh asal dan sifat guncangan dalam sistem keuangan global," imbuh Zuifany.

Pergerakan modal saat kondisi risk-off terbagi dalam tiga tahap. Pertama, fase akumulasi tersembunyi oleh institusi.

Kedua, fase kepanikan pasar yang memicu lonjakan harga. Ketiga, fase normalisasi ketika modal kembali ke aset berisiko.

>>> Pengamat: Peringatan 35 Tahun ASEAN-Rusia Momen Perluas Kerja Sama

"Intinya, keberhasilan dalam safe haven bukan soal bereaksi terhadap krisis, tetapi kesiapan membaca dan meresponsnya secara sistematis sejak awal," pungkas Zuifany.