SBY Ingatkan Dunia Sedang Tidak Baik-baik Saja, Ini Pesan Terbarunya untuk RI 2026
Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan peringatan serius mengenai kondisi global yang saat ini sedang tidak stabil.
Beliau menyampaikan bahwa tatanan dunia menghadapi berbagai krisis yang datang bersamaan dan saling tumpang tindih.
>>> AS Resmi Hapus Tarif Impor Logam Pesawat Taiwan, Berlaku Surut Sejak 1 Mei 2026
Pernyataan ini disampaikan SBY saat memberikan pidato kunci dalam acara The 4th Perbanas International Conference (PROFICIENT 2026) di Jakarta.
Menurutnya, ketidakpastian dipicu oleh perubahan iklim yang sulit diprediksi serta bencana alam yang berdampak buruk bagi kelompok rentan.
Fragmentasi Ekonomi dan Tantangan Geopolitik
SBY menyoroti fenomena fragmentasi ekonomi global yang kini tidak lagi hanya bergantung pada prinsip efisiensi perdagangan.
Faktor geopolitik, persaingan penguasaan teknologi, dan tekanan pada sektor keuangan publik menjadi variabel utama yang memengaruhi arah ekonomi dunia.
Beliau menjelaskan bahwa teknologi kini tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas.
Persaingan teknologi telah bertransformasi menjadi medan tempur baru antarnegara besar dalam memperebutkan pengaruh di pasar internasional.
Kondisi ini semakin diperparah dengan beban keuangan publik yang terus meningkat bagi banyak negara berkembang.
SBY mencatat bahwa pengeluaran negara saat ini lebih banyak terserap untuk pelayanan mendasar di tengah kebutuhan pembiayaan yang mendesak.
Berikut tantangan yang dihadapi negara berkembang saat ini:
- Kebutuhan anggaran yang melonjak untuk sektor pendidikan dan layanan kesehatan dasar.
- Penyediaan dana besar untuk pembangunan infrastruktur berkelanjutan dan transisi energi hijau.
- Tantangan dalam melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim yang kian ekstrem.
- Tekanan dalam menjaga stabilitas keuangan di tengah ketidakpastian pasar global.
Strategi Indonesia Menghadapi Krisis
Menyikapi situasi tersebut, SBY menyarankan agar Indonesia tidak sekadar mengekor kebijakan negara maju. Indonesia dinilai perlu merancang strategi pembangunan mandiri yang selaras dengan identitas serta kepentingan nasional.
Update Terbaru
Game Boy Pocket Berusia 30 Tahun, Warisannya Masih Terasa di Genggaman Modern
Rabu / 22-07-2026, 03:28 WIB
Ratusan Pemain Old School RuneScape Jadi Biksu dan Picu Perang Suci
Rabu / 22-07-2026, 03:28 WIB
Mushoku Tensei III Episode 1-4: Kisah Eris dan Kebahagiaan Rudeus
Rabu / 22-07-2026, 03:28 WIB
Manga Heisei Haizan-hei ☆ Sumire-chan Hiatus karena Cuti Melahirkan
Rabu / 22-07-2026, 03:24 WIB
Wamen Irene Dorong Tenun Sumba Barat Daya Naik Kelas Lewat Storytelling
Rabu / 22-07-2026, 03:24 WIB
PTPN I Fokus pada Lima Pilar untuk Transformasi Agroindustri
Rabu / 22-07-2026, 03:24 WIB
Google Perkenalkan Koleksi untuk Atasi Notebook Gemini yang Berantakan
Rabu / 22-07-2026, 03:22 WIB
Moto G Play (2024) Kini Hanya $100, Ponsel Budget Terbaik
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Nashville Gelar Konferensi Keamanan Kota untuk Pemimpin Penegak Hukum
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Indonesia Terbitkan Panda Bonds Senilai 1 Miliar Dolar AS
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Mertua Joseph Duggar Akan Diperiksa dalam Kasus Pelecehan Anak
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Melania Trump Minta Sanksi untuk Jurnalis Michael Wolff
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Carole Radziwill Bantah Terlibat Kasus Epstein di RHONY
Rabu / 22-07-2026, 03:21 WIB
Putra Claude Lemieux Ungkap Legenda NHL Kambuh Kecanduan Seks
Rabu / 22-07-2026, 03:19 WIB







