Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa pemerintah sempat mendapat tekanan berupa kekhawatiran mengenai penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap kondisi ekonomi Indonesia.

Menurutnya, ada pihak yang menyebut tanah air berpotensi memperoleh rapor buruk sehingga dapat mengurangi minat investor asing untuk menanamkan modal.

>>> 6 Negara Otomatis Lolos ke Piala Dunia 2030 sebagai Tuan Rumah

"Tadinya kita ditakut-takuti, ada rating agency, global rating agency nanti akan kasih rapor jelek Indonesia.

Kita akan diturunkan supaya nanti nggak ada yang mau invest di Indonesia," ujar Prabowo, dikutip Selasa (21/7/2026).

Namun, Prabowo menegaskan pemerintah tidak larut dalam kekhawatiran tersebut. Ia mengatakan perkembangan terbaru justru menunjukkan hasil berbeda dari prediksi yang sempat beredar.

S&P Pertahankan Pandangan Positif

Menurut Prabowo, Standard & Poor's (S&P) Global Ratings tetap mempertahankan pandangan positif terhadap Indonesia.

Ia menyebut keputusan tersebut menjadi bukti bahwa fundamental ekonomi nasional masih dinilai kuat oleh lembaga internasional.

>>> Xiaomi Rilis Pencukur Listrik Murah dengan Daya Adaptif dan IPX7

Meski demikian, presiden mengingatkan seluruh jajaran pemerintah agar tidak terlalu bergantung pada penilaian pihak luar dalam membangun optimisme ekonomi nasional.

"Sekali lagi saudara-saudara, percaya kepada kekuatan kita sendiri. Kita hidup di dunia global, tapi kita harus percaya kepada kekuatan kita sendiri.

Kita percaya kepada fundamental kita sendiri," tegas Prabowo.

Ia menilai penilaian lembaga internasional memang penting sebagai salah satu indikator kepercayaan pasar. Namun, arah pembangunan ekonomi Indonesia tidak boleh semata-mata ditentukan oleh persepsi eksternal.

>>> 79 Napi Berisiko Tinggi dari Lapas Makassar Dipindahkan ke Nusakambangan

Prabowo juga menegaskan pemerintah akan terus menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat fondasi pertumbuhan agar tetap menarik bagi investor, baik domestik maupun asing.