Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Selasa (21/7) sore. Mata uang Garuda naik 60 poin atau 0,33 persen ke posisi Rp17.888 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi.

>>> DLHK Banten Segel Tiga Perusahaan Diduga Cemari Sungai Cisadane

Yuan China menguat 0,03 persen, ringgit Malaysia naik 0,07 persen, dan dolar Singapura terapresiasi 0,09 persen.

Sementara itu, peso Filipina melemah 0,09 persen, yen Jepang turun 0,11 persen, won Korea Selatan terdepresiasi 0,12 persen, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,02 persen.

Di negara maju, euro Eropa naik 0,08 persen, dolar Australia menguat 0,34 persen, dan dolar Kanada terapresiasi 0,03 persen.

>>> Lula Kamal Ajak Warga Curhat ke Psikolog Pakai BPJS Kesehatan

Franc Swiss melemah 0,05 persen, sementara poundsterling Inggris stabil.

Sentimen Fiskal dan Suku Bunga Dorong Rupiah

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah menguat seiring meredanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Pemerintah melaporkan defisit APBN sebesar 0,76 persen dari PDB hingga Juni dan mempertahankan proyeksi defisit APBN 2026 di bawah batas 3 persen dari PDB.

>>> KPK Tetapkan Bupati Lombok Barat Tersangka Korupsi

Rupiah juga didukung oleh antisipasi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia besok.