Senior Capital Market Analyst Pinnacle Investment Indonesia John Daniel Rachmat menilai kebijakan ekspor satu pintu berpotensi mengurangi daya tarik saham-saham eksportir.

Selama ini, emiten dengan pendapatan dalam mata uang asing menjadi pilihan investor saat rupiah melemah. Namun, kebijakan baru itu bisa mengubah pandangan tersebut.

>>> Mirra Andreeva Juarai Prancis Terbuka 2026 Usai Kalahkan Maja Chwalinska

Menurut John, dolar AS dan dolar Singapura kini menjadi instrumen safe haven yang lebih layak dipertimbangkan.

Pemerintah tengah menyiapkan skema ekspor satu pintu untuk komoditas strategis seperti batu bara, kelapa sawit, dan fero aloi.

Masa transisi hingga akhir 2026, eksportir masih boleh melakukan ekspor mandiri dengan kewajiban lapor ke PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).

Pelaksanaan penuh dimulai 1 Januari 2027.

John menilai sentralisasi ekspor melalui satu lembaga memunculkan kekhawatiran baru. Fungsi pemasaran dan ekspor merupakan bagian melekat dalam operasional perusahaan.

“Karena awalnya memang dollar earner itu dianggap safe haven. Tapi tiba-tiba hilang, diambil dicopot melalui ekspor satu pintu.

Itu yang sangat kecewa,” ujarnya dalam acara Kapan Market Rebound yang digelar Indonesia Investment Education secara daring, Sabtu (6/6/2026).

>>> FBI Perketat Pengamanan Udara Piala Dunia 2026 dari Ancaman Drone

Ia juga menyoroti potensi persoalan tata kelola jika seluruh ekspor komoditas strategis harus melalui satu entitas. Mekanisme itu berisiko menimbulkan ketidakpastian penyaluran kontrak ekspor.

Kekhawatiran terhadap kebijakan tersebut juga tercermin dari perhatian lembaga pemeringkat internasional yang menilai sentralisasi ekspor berpotensi memengaruhi kinerja perdagangan Indonesia.

Di tengah pelemahan rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar AS, John menilai arah pasar selanjutnya bergantung pada keseriusan pemerintah menyelesaikan persoalan yang membebani sentimen investor.

“Kalau merasa Rp18.000 mahal, ya bulan depan mungkin sudah Rp19.000, bulan depannya lagi mungkin Rp20.000 kalau seandainya masalah ini tidak selesai,” katanya.

Meski demikian, kondisi pasar yang tertekan bisa menjadi peluang investasi jika berbagai persoalan mulai menunjukkan arah penyelesaian. Momentum tersebut dapat menjadi titik masuk yang menarik.

“Kalau seandainya masalah yang tadi ada daftar di atas itu sudah dalam proses akan selesai, saya dengan happy kita akan masuk.

>>> Federico Chiesa Bantah Alasan Finansial Tinggalkan Juventus

Betul, itu waktunya kita mungkin easily 2 times, 3 times, maybe 5 times bagger,” ujarnya.