Dan kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp 12.300," kata Sigit.

Faktor geopolitik global disebut menjadi pemicu lonjakan harga energi di berbagai negara. Sigit menambahkan bahwa penyesuaian bertahap diperlukan untuk menjaga ketersediaan suplai.

"Teman-teman bisa melihat di market internasional di tetangga sebelah negara lain itu RON 91, 92 itu di Rp 20.000, Rp 21.000.

Jadi kita ingin memberikan message bahwa ini memang perlu naik kepada konsumen karena kondisinya memang harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di pasar," tuturnya.

Meski harga Pertamax naik, nilainya masih di bawah harga keekonomian Pertalite jika tanpa subsidi.

Roberth menegaskan bahwa secara keekonomian, Pertamax dengan RON lebih tinggi pasti lebih mahal dari Pertalite.

>>> Menyusuri Badar: Saksi Perjuangan Dakwah dan Kemenangan Pasukan Malaikat

"Apabila Pertamax mengacu harga keekonomian yang seharusnya, maka akan lebih mahal dari Pertalite tanpa subsidi," katanya.