PT Pertamina Patra Niaga buka suara terkait harga keekonomian BBM nonsubsidi Pertamax dan Pertalite yang disubsidi. Harga jual saat ini dinilai masih jauh dari nilai keekonomian sebenarnya.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M V Dumatubun, menyatakan bahwa beban subsidi untuk setiap liter Pertalite mencapai sekitar Rp 8.000.

>>> 7 Hal yang Bisa Membuat Kamu Terlihat Lebih Menarik Menurut Psikologi

Hal ini terungkap dari nilai keekonomian Pertalite tanpa subsidi yang diperkirakan menembus Rp 18.040 per liter.

Roberth menegaskan bahwa kebijakan subsidi BBM sepenuhnya wewenang pemerintah. Pertamina hanya bertindak sebagai operator yang menyalurkan BBM jenis JBKP sesuai penugasan.

Sementara itu, harga Pertamax yang saat ini dipatok Rp 16.250 per liter juga belum mencerminkan harga keekonomian.

>>> Google Luncurkan June Pixel Drop: Fitur Screen Reactions, Gemini, dan AI Baru

Menurut Roberth, harga Pertamax baru sekitar 50% dari harga keekonomian yang seharusnya.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengungkapkan bahwa harga RON 92 di pasar internasional telah mencapai Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter.

Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026 baru mencakup separuh dari penyesuaian yang diperlukan.

>>> Sejarah Pemulihan IHSG: Delapan Koreksi Besar dan Pelajaran bagi Investor

Pertamina berupaya menjaga ketersediaan pasokan di tengah tekanan geopolitik global. Harga Pertamax yang lebih tinggi dari Pertalite secara keekonomian dinilai wajar mengingat kualitasnya yang lebih baik.