Sejumlah bank sentral di dunia mulai memindahkan dan menyimpan cadangan emas batangan mereka di dalam negeri, alih-alih di luar negeri.

Langkah ini diambil pada Rabu, 17 Juni 2026, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.

>>> Pasar Obligasi Pemerintah Berpotensi Menguat, The Fed dan BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga

Keputusan ini didorong oleh perkiraan otoritas moneter bahwa mereka akan membeli lebih banyak aset aman tersebut.

Survei tahunan Central Bank Gold Reserves yang dirilis World Gold Council mengungkapkan, 89 persen responden meyakini cadangan emas bank sentral global akan terus meningkat dalam 12 bulan ke depan.

Sekitar 45 persen dari lembaga yang disurvei memperkirakan kepemilikan emas mereka sendiri akan bertambah.

Survei yang dilakukan antara 5 Februari hingga 19 Mei tersebut mengumpulkan respons dari 74 bank sentral.

Data menunjukkan, 9 persen responden telah meningkatkan penyimpanan domestik dalam 12 bulan terakhir, naik dari 5 persen pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, 10 persen responden memilih untuk mendiversifikasi lokasi penyimpanan luar negeri mereka.

Kekhawatiran Aksesibilitas Aset

Analis komoditas di UBS, Giovanni Staunovo, menjelaskan bahwa kekhawatiran atas aksesibilitas aset di luar negeri pasca-invasi Rusia ke Ukraina menjadi pemicu utama repatriasi ini.

Pembekuan sekitar 300 miliar dolar AS aset asing Rusia memicu kekhawatiran bank sentral terhadap keamanan cadangan mereka yang disimpan di luar negeri.

>>> Norwegia Kalahkan Irak 4-1 di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

"Ketakutan bahwa aset tidak dapat diakses di luar negeri, sejak 2022, mendorong beberapa bank sentral untuk memulangkan emas yang disimpan di luar negeri," kata Staunovo kepada CNBC.

Ia menambahkan bahwa emas sering kali membawa signifikansi simbolis sebagai aset nasional, memberikan insentif tambahan bagi negara-negara untuk menjaga cadangan mereka di dalam negeri.