Pasar obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) diproyeksikan melanjutkan penguatan.

Tren positif ini muncul setelah pelaku pasar memperkirakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat pekan ini.

>>> Norwegia Kalahkan Irak 4-1 di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Ekspektasi meredanya tekanan inflasi global dipicu oleh penurunan harga minyak mentah. Kondisi tersebut dinilai mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed, sehingga menjadi sentimen positif bagi pasar SBN.

Harga minyak WTI dan Brent mencatatkan penurunan masing-masing sebesar 16,26% dan 15,71% dalam sepekan terakhir.

Saat ini, minyak WTI diperdagangkan pada level US$ 75,6 per barel, sementara minyak Brent berada di angka Rp 78,6 per barel.

"Kesepakatan AS-Iran merupakan sebuah kejutan, di luar perkiraan banyak pihak.

Penurunan harga minyak tentunya akan menurunkan inflasi di AS, sehingga peluang The Fed menaikkan Fed rate semakin mengecil," terang Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin.

Saat ini, Fed Funds Rate berada di kisaran 3,50% hingga 3,75%.

Jika The Fed menahan suku bunga di level tersebut dan BI mempertahankan BI-Rate pada posisi 5,50%, harga SBN di pasar sekunder berpotensi terangkat naik.

Kenaikan harga tersebut berpeluang menurunkan yield SBN, termasuk untuk tenor 10 tahun.

Pergerakan ini sejalan dengan tren belakangan ini, di mana yield SBN tenor 10 tahun turun ke kisaran 6,89% pada Rabu (17/6/2026) dari posisi pekan sebelumnya di sekitar 7,5%.

Penurunan yield didorong oleh menyusutnya peluang kenaikan suku bunga The Fed akibat perkembangan konflik Iran-AS yang mengoreksi harga energi global.

Situasi ini memicu peningkatan minat investor terhadap SBN sehingga mendongkrak harga obligasi.