LPEM FEB UI Prediksi BI Tahan Suku Bunga Acuan 5,5 Persen
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 5,5 persen.
Keputusan tersebut diperkirakan diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.
>>> Lenovo Tab Plus Gen 2 Resmi, Bawa Sembilan Speaker JBL dan Baterai 10.200 mAh
Proyeksi ini didasarkan pada pengetatan moneter signifikan yang telah dilakukan sebelumnya.
BI tercatat sudah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 75 basis poin (bps), terdiri dari kenaikan 50 bps pada Mei 2026 dan 25 bps dalam RDG Mingguan pada 9 Juni 2026.
Alasan di Balik Keputusan
Ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menjelaskan perlunya BI menstabilkan suku bunga acuan pada periode ini.
"Mempertimbangkan pengetatan kebijakan yang telah berlangsung secara bertahap sejak Mei, intervensi valuta asing yang terus berlanjut, serta kebutuhan untuk mengevaluasi dampak dari langkah-langkah yang baru-baru ini diambil, kami berpandangan bahwa Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya pada level 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur yang akan datang," ucap Riefky.
Meskipun rupiah masih tertekan, inflasi nasional tetap terkendali dalam kisaran target BI. Hal ini mengurangi urgensi kenaikan suku bunga tambahan.
>>> Madinah Bertransformasi Pesat Berkat Visi Saudi 2030
"Namun demikian, ruang untuk pemangkasan suku bunga kemungkinan akan tetap terbatas selama rupiah masih mengalami tekanan," tutur Riefky.
Ke depannya, inflasi masih menghadapi risiko dari sisi penawaran, seperti tekanan pasokan pangan dan penyesuaian harga BBM Pertamax serta Pertamax Green 95.
"Ke depan, pada Juni 2026 Bank Indonesia tetap optimis bahwa inflasi dapat dijaga dalam kisaran target, meskipun risiko jangka pendek meningkat akibat tekanan pasokan pangan yang masih berlanjut serta penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green 95," terang Riefky.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik global memberikan sedikit sentimen positif menyusul kabar perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka kembali Selat Hormuz.
Situasi ini diharapkan menurunkan harga minyak dunia, meskipun dampak lag dari kenaikan biaya energi sebelumnya berpotensi menjaga inflasi global tetap tinggi.
>>> Syarat dan Niat Shalat Jamak bagi Musafir: Panduan Lengkap
"Oleh karena itu, the Fed memiliki ruang yang terbatas untuk memangkas suku bunga, di mana sebagian analis memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang 2026," tutur Riefky.
Update Terbaru
Tecno Spark 50 Pro Hadir dengan Desain Tipis dan Tahan Air di Kelas Menengah
Rabu / 17-06-2026, 18:00 WIB
Kementerian ESDM: Harga BBM Non Subsidi Berpeluang Turun
Rabu / 17-06-2026, 17:59 WIB
Integrasi AI Ubah Lanskap Kejahatan Siber 2026, Ini 5 Ancaman Utama
Rabu / 17-06-2026, 17:59 WIB
Tecno Camon 50 Resmi di Indonesia, Simak Spesifikasi dan Harga Terbaru Juni 2026
Rabu / 17-06-2026, 17:57 WIB
Menteri PU Bantah Kendala Arus Kas Kontraktor Sekolah Rakyat
Rabu / 17-06-2026, 17:56 WIB
Shopee Bantu Ekspor Puluhan Juta Produk UMKM Lokal ke Pasar Global
Rabu / 17-06-2026, 17:55 WIB
IHSG Melemah ke 6.220,74, Ini Rekomendasi Saham ISSP, BJBR, dan AKRA
Rabu / 17-06-2026, 17:55 WIB
Kementerian ESDM Buka Peluang Penurunan Harga BBM Nonsubsidi
Rabu / 17-06-2026, 17:55 WIB
Lima Wakil Indonesia Lolos ke 16 Besar Macau Open 2026
Rabu / 17-06-2026, 17:53 WIB
Samsung Rilis Patch Keamanan Mei 2026 untuk Galaxy Watch FE hingga Watch 4
Rabu / 17-06-2026, 17:52 WIB
PT Provident Investasi Bersama Tbk Himpun Obligasi Rp 2,3 Triliun untuk Refinancing
Rabu / 17-06-2026, 17:52 WIB
Dokter BTN Jakim 2026 Ungkap Lonjakan Panggilan Darurat Saat Agus Putranadi Meninggal
Rabu / 17-06-2026, 17:50 WIB
Bioskop Trans TV Tayangkan Zombieland: Double Tap Malam Ini
Rabu / 17-06-2026, 17:50 WIB
Argentina Tekuk Aljazair 3-0 di Laga Perdana Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 17:49 WIB






