Pelaku pasar memproyeksikan Bank Indonesia (BI) dan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan mereka dalam rapat kebijakan moneter pada Juni 2026.

Saat ini, Fed Funds Rate berada di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen, sementara BI-Rate bertahan di level 5,50 persen.

>>> Buya Yahya: Utang dengan Niat Buruk Bisa Menyempitkan Rezeki

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyampaikan bahwa perhatian pasar tertuju pada konfirmasi bertahannya BI-Rate pascakenaikan di luar jadwal rapat bulanan.

BI sebelumnya menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan 9 Juni 2026, setelah menaikkan 50 basis poin dari 4,75 persen ke 5,25 persen pada RDG Mei.

Langkah tersebut dinilai sebagai respons pre-emptive untuk mengawal stabilitas nilai tukar rupiah dari tekanan global.

Dampak Penahanan Suku Bunga terhadap Pasar SBN

Skenario penahanan suku bunga oleh kedua bank sentral menjadi opsi paling berpeluang yang memberikan dampak positif hingga netral bagi pasar Surat Berharga Negara (SBN).

Arah pasar ke depan akan lebih ditentukan oleh proyeksi suku bunga (dot plot) serta komunikasi Ketua The Fed, Kevin Warsh.

Keputusan BI mempertahankan suku bunga dipandang sebagai sinyal akhir siklus pengetatan moneter.

>>> 8 Fitur Baru Android 17 yang Wajib Diketahui

"Kepastian arah kebijakan seperti ini biasanya membantu menurunkan premi risiko dan mendukung penurunan yield obligasi tenor panjang secara bertahap," ujar Yusuf Rendy Manilet.

Yusuf mengingatkan pasar untuk tetap siaga terhadap potensi kejutan, karena tambahan kenaikan suku bunga dari BI dapat memicu tekanan jangka pendek pada harga obligasi meski di sisi lain mampu memperkuat rupiah.

"Situasi seperti ini cenderung menciptakan tekanan sementara yang masih bisa diimbangi oleh masuknya dana investor," kata Yusuf.

Risiko lebih masif bagi pasar SBN dinilai datang dari The Fed, di mana potensi kenaikan suku bunga AS bisa mendongkrak yield US Treasury dan memperkuat dolar AS, yang memicu perpindahan dana global kembali ke aset dolar.

Skenario terburuk diproyeksikan terjadi apabila penguatan dolar AS memaksa BI menaikkan suku bunga kembali demi menjaga rupiah, sehingga pasar obligasi domestik tertekan oleh faktor global dan domestik sekaligus.

>>> GoPay Luncurkan Kartu Ucapan Ulang Tahun Interaktif untuk Pengguna

"Dalam situasi tersebut, pasar obligasi domestik akan menghadapi tekanan dari faktor global dan domestik sekaligus," pungkas Yusuf.