Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, Buya Yahya, mengingatkan bahwa utang bisa menjadi penyebab sempitnya rezeki jika tidak dikelola dengan benar.

Dalam kajiannya di kanal YouTube Al-Bahjah TV, ia menekankan bahwa masalah utama bukan pada jumlah pinjaman, melainkan pada niat peminjam.

>>> 8 Fitur Baru Android 17 yang Wajib Diketahui

Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa mengambil harta manusia dengan niat ingin membayarnya, maka Allah akan menolongnya untuk melunasi.

Dan barang siapa mengambilnya dengan niat ingin merusaknya (tidak mengembalikan), maka Allah akan membinasakannya." (HR Bukhari).

Buya Yahya menegaskan, "Kalau iya pinjam uang, hati-hati jika terbetik di hati anda ketidakmauan untuk membayar."

Utang dan Keberkahan Hidup

Menurut Buya Yahya, dampak buruk utang tidak selalu berupa kemiskinan materi, tetapi bisa berupa hilangnya ketenangan, kemudahan, dan pintu kebaikan.

>>> GoPay Luncurkan Kartu Ucapan Ulang Tahun Interaktif untuk Pengguna

Rezeki dalam Islam memiliki makna luas, mencakup kesehatan, keluarga harmonis, ilmu berkah, hingga ketenangan hati.

Ketika hak orang lain diabaikan, dampaknya bisa berupa hilangnya kedamaian hidup atau kemudahan urusan.

Rasulullah SAW bahkan pernah menunda salat jenazah bagi yang masih memiliki utang tanpa penjamin, sebagaimana riwayat Muslim: "Jiwa seorang mukmin tergantung karena utangnya hingga utang tersebut dilunasi."

Islam mengajarkan lima langkah mengelola pinjaman: hanya meminjam saat mendesak, mencatat sesuai Surah Al-Baqarah ayat 282, berkomitmen melunasi, membayar tepat waktu, dan memperbanyak doa.

>>> Kurs Rupiah 17 Juni 2026 Melemah ke Rp17.762 per Dolar AS

Doa yang diajarkan Rasulullah SAW: "Allahumma inni a'udzu bika minal ma'tsami wal maghram" (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan dosa dan lilitan utang).