Wahyu merupakan petunjuk dari Allah SWT yang diturunkan kepada para rasul untuk disampaikan kepada umat manusia.

Melalui wahyu, Nabi Muhammad SAW menerima ajaran, perintah, larangan, serta pedoman hidup yang menjadi dasar syariat Islam.

>>> APJIPMI Laporkan Dua Merek Termitisida ke KPPU atas Dugaan Monopoli

Secara bahasa, kata "wahyu" berasal dari akar kata wahy yang berarti memberitahukan dengan cepat dan rahasia.

Secara istilah, wahyu adalah pemberitahuan Allah SWT kepada para nabi dan rasul-Nya melalui berbagai cara yang telah ditentukan.

Proses turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW terjadi dalam beberapa bentuk yang berbeda. Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam buku Sirah Nabawiyah mengutip pendapat Ibnu Qayyim mengenai ragam cara penyampaian tersebut.

Tujuh Cara Turunnya Wahyu

Cara turunnya wahyu memiliki keragaman, mulai dari yang paling sederhana hingga komunikasi langsung tanpa perantara. Berikut adalah tujuh cara penyampaian wahyu tersebut.

Pertama, melalui mimpi yang hakiki (ru'ya shadiqah). Bentuk awal penyampaian wahyu kepada Nabi Muhammad SAW adalah melalui mimpi yang benar.

Dalam catatan sejarah, mimpi yang dilihat Rasulullah SAW selalu menjadi kenyataan secara persis di alam nyata.

Kedua, bisikan ke dalam jiwa dan hati Nabi. Metode ini berupa bisikan yang ditanamkan langsung ke dalam jiwa dan hati Nabi tanpa memperlihatkan sosok penyampainya.

Rasulullah SAW bersabda bahwa Ruhul-Qudus menghembuskan ke dalam dirinya bahwa setiap jiwa tidak akan mati hingga disempurnakan rezekinya.

Ketiga, malaikat menyerupai seorang laki-laki. Malaikat pernah hadir di hadapan Nabi Muhammad SAW dengan berwujud sebagai seorang pria.

Malaikat tersebut berbicara langsung sehingga Rasulullah SAW dapat memahami pesan yang dibawa, bahkan para sahabat terkadang bisa melihat penampakan fisik manusia tersebut.