Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga kebersihan hati dari berbagai penyakit yang muncul diam-diam.

Salah satu sifat buruk yang sering tidak disadari adalah merasa senang ketika melihat orang lain tertimpa musibah, kegagalan, atau kejatuhan.

>>> Amerika Serikat Unggul 3-0 atas Paraguay di Babak Pertama Piala Dunia 2026

Sikap ini kerap dijumpai di media sosial dalam wujud komentar sinis atau sindiran kepuasan saat orang lain mengalami kesulitan.

Dalam ajaran Islam, perilaku tersebut dikenal dengan istilah syamatah.

Para ulama menjelaskan bahwa syamatah merupakan penyakit batin yang sangat berbahaya. Rasulullah SAW bahkan secara khusus mengingatkan umat Islam agar menjauhi sikap bahagia di atas penderitaan sesama manusia.

Pengertian Syamatah Menurut Ulama

Secara bahasa, syamatah memiliki arti rasa gembira atas kemalangan yang menimpa orang lain. Perasaan negatif ini biasanya berakar dari rasa iri hati, persaingan, hingga kebencian yang mendalam.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Mizanul ‘Amal memaparkan bahwa syamatah adalah kegembiraan atas keburukan yang menimpa seseorang yang sebenarnya tidak layak menerima musibah tersebut.

Menurut beliau, sifat ini menandakan rusaknya empati dan lemahnya kebersihan hati.

Ketika seseorang menikmati penderitaan orang lain, nilai kasih sayang terhadap sesama telah hilang dari hatinya.

Padahal, seorang Muslim sejatinya harus ikut merasakan kesedihan saudaranya, bukan justru menjadikannya sebagai hiburan.

Peringatan Rasulullah SAW Terkait Bahaya Syamatah

Rasulullah SAW telah memberikan peringatan keras mengenai fenomena ini agar umatnya terhindar dari perilaku tercela tersebut.

Beliau bersabda, "Janganlah engkau menampakkan kegembiraan atas musibah saudaramu, karena bisa jadi Allah menyembuhkannya lalu mengujimu."

Hadis riwayat Imam Tirmidzi tersebut menegaskan bahwa kondisi kehidupan manusia sangat dinamis dan mudah berputar.