Sebagian umat Muslim masih mempercayai mitos di bulan Safar tanpa menelusuri dasarnya dalam ajaran Islam.

Bulan kedua dalam kalender Hijriyah ini kerap dianggap membawa sial, penuh musibah, dan tidak tepat untuk melakukan hal-hal penting.

>>> Harry Kane Kritik Taktik Bertahan Inggris Usai Kekalahan dari Argentina

Akibatnya, ada yang menghindari pernikahan, perjalanan jauh, hingga memulai usaha pada bulan Safar. Lantas, benarkah mitos tersebut memiliki dasar yang kuat dalam Islam?

Asal-usul Bulan Safar

Mengutip laman MUI, kata Safar memiliki dua makna, yaitu kosong (shafar) dan kuning (shufrah).

Penamaan ini berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab zaman dahulu yang meninggalkan rumah untuk bepergian atau berperang, sehingga tempat tinggal menjadi kosong.

Dalam kitab al-Mufasshal fi Tarikhil 'Arab Qablal Islam, disebutkan bahwa kondisi kosong itu membuat orang-orang yang ditinggal berkata, "Orang-orang mengosongkan kota (meninggalkan) kita, sebab kita miskin (kosong/tidak memiliki harta)."

(Juz 6, h. 120).

Sejarah ini penting dipahami agar mitos di bulan Safar tidak terus dipelihara tanpa ilmu.

Mitos yang Beredar di Masyarakat

Ada beberapa mitos di bulan Safar yang beredar sejak dahulu kala.

Pertama, Safar dianggap sebagai bulan pembawa sial, sehingga banyak orang menunda acara penting seperti menikah, pindah rumah, atau memulai pekerjaan baru.

Kedua, ada keyakinan bahwa bepergian di bulan Safar rawan membawa musibah. Sebagian orang percaya risiko kecelakaan atau kejadian buruk lebih besar jika bepergian saat itu.

Padahal, keselamatan dalam perjalanan ditentukan oleh kehendak Allah dan ikhtiar manusia, bukan oleh bulan.

Ketiga, Safar sering dianggap sebagai bulan penyakit. Muncul anggapan wabah atau gangguan kesehatan lebih mudah terjadi pada bulan ini.