Padahal, sakit dan sehat adalah bagian dari takdir Allah, bukan karena bulan tertentu memiliki energi negatif.

>>> Final Piala Dunia 2026: Argentina vs Spanyol, Catat Tanggal dan Jam Tayang

Pandangan Islam tentang Mitos Bulan Safar

Dari berbagai mitos tersebut, adakah kebenarannya?

Mengutip laman Universitas Islam Indonesia, dahulu kala ketika masyarakat Arab jahiliah meyakini bulan ini membawa nasib buruk, Rasulullah datang dan bersabda: "Tidak ada penularan (penyakit) tanpa izin Allah, tidak ada kepercayaan terhadap burung sebagai penentu nasib, tidak ada kesialan pada burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar."

(HR. Bukhari, no.

5707; Muslim, no. 2220).

Hadis ini menegaskan bahwa mitos di bulan Safar tidak memiliki landasan syariat. Semua bulan pada dasarnya sama di sisi Allah.

Tidak ada bulan yang secara mandiri membawa keberuntungan atau kesialan. Yang menentukan baik buruknya keadaan seseorang adalah amal, doa, dan izin Allah.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an: "Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.

Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan yang empat itu." (QS.

At-Taubah: 36). Ayat tersebut menegaskan bahwa hanya empat bulan yang diberi kekhususan, yakni Zulkaidah, Zulhijah, Muharram, dan Rajab.

Safar tidak termasuk di dalamnya, artinya bulan ini sama mulianya dengan bulan lain.

Meluruskan mitos di bulan Safar bukan sekadar membantah tradisi lama, tetapi juga bagian dari menjaga kemurnian akidah umat Islam agar lebih bertawakal kepada Allah.

>>> Lionel Messi yang Rela Jadi Pelayan, Argentina yang Jadi Pemenang

Daripada takut pada mitos, lebih baik menjadikan bulan Safar sebagai momen untuk memperbanyak ibadah, seperti zikir, salat, sedekah, menuntut ilmu, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.