Di media sosial dan obrolan sehari-hari, masih banyak anggapan bahwa lele yang melengkung atau meringkuk saat digoreng merupakan tanda ikan tersebut diberi pakan kotoran manusia.

Sebaliknya, lele yang tetap lurus saat dimasak dianggap lebih sehat dan dibudidayakan dengan baik. Lantas, benarkah bentuk lele setelah digoreng bisa menjadi penanda kualitas atau jenis pakannya?

>>> Sering Lelah? Makanan Kaya Zat Besi Ini Bisa Tingkatkan Energi Anda

Penjelasan Pakar

Pakar budidaya perikanan dari IPB University, Cecilia Eny Indriastuti, mengatakan kualitas lele tidak bisa dinilai hanya dari bentuknya setelah digoreng.

Konsumen justru perlu memperhatikan kondisi fisik ikan saat membelinya di pasar.

"Kondisi tubuh lele yang baik adalah proporsional, kepala tidak lebih besar dari badan, tubuh panjang, daging tebal atau tidak kurus, warna hitam cerah, tidak berbau amis, dan teksturnya kenyal," kata Cecilia.

Selain itu, lele segar sebaiknya tidak memiliki luka atau cacat pada tubuhnya. Warna kulitnya tampak merata, tidak pucat, dan tidak belang-belang.

Benarkah Lele Meringkuk karena Makan Kotoran Manusia?

Anggapan bahwa lele yang meringkuk saat digoreng berasal dari kolam yang diberi pakan feses manusia ternyata tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.

Penjelasan dari platform edukasi kesehatan Tentang Anak menyebutkan bahwa bentuk lele saat digoreng lebih dipengaruhi oleh kondisi tubuh ikan dan proses memasaknya, bukan semata-mata oleh jenis pakan yang dikonsumsi.

Secara biologis, sistem pencernaan lele akan memecah makanan yang masuk menjadi molekul-molekul sederhana seperti asam amino dan asam lemak.

Artinya, bentuk akhir tubuh ikan tidak secara langsung mencerminkan apa yang pernah dimakannya.

>>> Manfaat Kopi untuk Kesehatan: Benarkah Baik Dikonsumsi Setiap Hari?