Orang yang terpuruk hari ini bisa saja dimuliakan esok hari, sementara yang menertawakan justru berbalik diuji dengan cobaan serupa.

Rasulullah SAW juga mengajarkan doa khusus agar terhindar dari situasi yang mengundang kepuasan musuh melalui hadis riwayat Imam Bukhari.

Doa tersebut berbunyi, "Berlindunglah kepada Allah dari beratnya cobaan, keterpurukan celaka, buruknya takdir, dan syamatah musuh."

Doa ini memperlihatkan betapa beratnya beban mental ketika seseorang menjadi bahan ejekan atau sumber kepuasan pihak lain di tengah masa-masa sulitnya.

Kemunculan yang Halus di Era Digital

Syamatah menjadi sangat berbahaya karena sering kali bermanifestasi secara halus di dalam batin manusia.

Seseorang mungkin tidak menertawakan secara langsung, tetapi memendam rasa puas saat figur yang tidak disukainya mengalami kegagalan.

>>> Lionel Messi Kejar Rekor Miroslav Klose di Piala Dunia 2026

Fenomena ini kian subur pada era digital ketika ada figur publik atau orang lain yang dipermalukan di jagat maya.

Buku La Tahzan karya Aidh al-Qarni menyebutkan bahwa hati yang dipenuhi iri dengki akan sulit merasakan ketenangan karena kebahagiaannya bergantung pada kejatuhan orang lain.

Akar Masalah Berupa Hasad dan Kedengkian

Pemicu utama syamatah adalah penyakit hasad atau iri hati yang dibiarkan menumpuk terlalu lama.

Muhammad al-Tahir Ibnu Asyur dalam kitab At-Tahrir wa At-Tanwir menerangkan bahwa rasa senang atas musibah orang lain lahir dari permusuhan batin.

Ketidakrelaan melihat orang lain sukses memicu rasa puas saat orang tersebut jatuh.

Sifat hasad ini telah lama dilarang dalam Al-Qur'an, salah satunya pada Surah Al-Falaq ayat 5 yang berbunyi, "Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki."