Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (17/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terdepresiasi 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.762 per dolar AS.

>>> Sinetron Istiqomah Cinta Episode 127 dan 129: Emran Mengaku Mister Soulmate

Pada hari sebelumnya, rupiah masih berada di posisi Rp17.708 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan ini lebih disebabkan faktor eksternal. Pelaku pasar melakukan aksi ambil untung setelah rupiah mencatat penguatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS oleh aksi profit taking setelah penguatan besar belakangan ini," ujar Lukman.

Para investor kini menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) malam ini. Selain itu, perhatian juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait arah BI Rate.

Meski melemah, tekanan terhadap rupiah dinilai masih terkendali. Peluang rupiah bertahan di bawah level psikologis Rp18.000 per dolar AS masih terbuka lebar.

"Rupiah diperkirakan masih akan bertahan di bawah Rp18.000 apabila sesuai perkiraan BI menaikkan suku bunga besok," kata Lukman.

>>> Samsung Berencana Perbanyak Produksi Outsourcing untuk Tekan Biaya

Di kawasan Asia, pergerakan mata uang bervariasi terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan melemah paling tajam 0,26 persen, diikuti peso Filipina 0,13 persen, dan baht Thailand 0,06 persen.

Dolar Taiwan turun 0,02 persen, yuan China 0,01 persen, dan dolar Hong Kong 0,006 persen.

Sementara itu, rupee India menguat 0,25 persen, yen Jepang 0,16 persen, ringgit Malaysia 0,10 persen, dan dolar Singapura 0,02 persen.

Pergerakan rupiah ke depan bergantung pada pengumuman suku bunga The Fed dan Bank Indonesia.

>>> BSI Buka Lowongan Kerja Juni 2026 untuk Profesional dan Magang

Hasil pertemuan tersebut akan menentukan apakah rupiah bisa menjaga jarak dari Rp18.000 atau kembali tertekan.