Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah pada perdagangan Rabu (17/6/2026).

Kurs rupiah terdepresiasi sebesar 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp 17.762 per dollar Amerika Serikat (AS).

>>> Kementan Targetkan Swasembada Bawang Putih dalam Empat Tahun

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan perhatian pasar saat ini juga tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.

RDG kali ini dinilai penting karena pada pekan lalu BI secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen melalui RDG mingguan.

Sebelumnya, dalam RDG bulanan, BI juga telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin.

"Dalam beberapa waktu terakhir Bank Indonesia telah mengambil langkah yang cukup agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Kebijakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar, terutama karena rupiah sebelumnya sempat mengalami tekanan yang cukup besar terhadap dollar AS," ujar Ibrahim.

Selain itu, Indonesia kini tidak lagi bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah yang pengirimannya melalui Selat Hormuz.

Pemerintah telah mengamankan pasokan energi nasional melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok lainnya.

Langkah diversifikasi sumber pasokan minyak tersebut dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional, sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Dengan strategi tersebut, Indonesia memiliki alternatif sumber impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Meski demikian, pemerintah tetap mengedepankan pertimbangan harga dalam menentukan sumber pasokan minyak mentah.

Pemerintah akan memilih sumber minyak yang menawarkan harga paling kompetitif guna menjaga efisiensi serta mengurangi beban fiskal negara.