Gaya hidup cashless semakin mengakar di Indonesia. Dompet digital, QRIS, dan mobile banking menjadi andalan masyarakat dalam bertransaksi sehari-hari.

OVO mencatat lonjakan transaksi hingga 70 persen dalam lima tahun terakhir, sejak 2021 hingga 2025. Data ini menunjukkan pergeseran kebiasaan belanja masyarakat.

>>> Kisah Bakso Uhud Pak Oemar yang Memikat Lidah Warga Arab Saudi

Head of Strategy, Integrated Marketing Communication OVO, Asep Haekal, mengungkapkan perubahan tren penggunaan platform digital.

Jika sebelumnya OVO banyak digunakan untuk belanja online di e-commerce, kini mayoritas transaksi bergeser ke merchant offline.

"FnB itu adalah transaksi terbesar di offline merchant.

Bukan beli GrabFood, tapi benar-benar datang ke toko untuk bertransaksi," jelas Haekal dalam OVOFinTalk 2026 pada Rabu, 17 Juni 2026.

Kehadiran QRIS menjadi pendorong utama tingginya transaksi di merchant fisik. "99,1 persen offline payment di OVO terjadi karena QRIS.

Lebih dari 50 persennya belanja hal-hal receh, di bawah Rp25.000, seperti cimol atau kopi murah," tambahnya.

Akumulasi pengeluaran kecil untuk jajan ternyata bisa menguras kantong jika tidak diimbangi kesadaran.

Certified Financial Planner dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh keinginan melepas stres melalui makanan atau barang pemicu dopamin.

Ketiadaan friksi atau rasa sakit saat mengeluarkan uang (pain of payment) pada sistem nontunai membuat masyarakat tidak perlu lagi antre di ATM.

"Kalau hujan, malas keluar. Tapi dengan handphone, tidak ada hambatan.

>>> Identitas 10 Perwakilan BEM Bersatu Disorot, Dua Nama Tercatat Sudah Lulus

Mau beli pentol tanpa dompet, asal bawa handphone bisa," bebernya.

Kemudahan transaksi digital dirancang sangat mulus. "Bisa langsung pencet tombol, masuk belanja.