PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diproyeksikan mencatatkan kinerja solid pada kuartal III-2026. Periode tersebut bahkan berpotensi menjadi yang terkuat sepanjang tahun ini.

Kenaikan volume penjualan emas dan kuota produksi bijih nikel yang lebih besar menjadi pendorong utama. Harga komoditas yang masih tinggi turut menopang pertumbuhan emiten tambang pelat merah ini.

>>> Cek Fakta: The Simpsons Tidak Prediksi Final Piala Dunia 2026

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, memperkirakan volume penjualan emas ANTM sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar 40 ton.

Harga emas global yang bertahan di atas US$ 3.000 per ons troi juga mendukung profitabilitas perseroan.

Volume penjualan bijih nikel diperkirakan meningkat seiring persetujuan RKAB sebesar 18,1 juta wet metric ton (wmt). Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi 16 juta wmt pada 2025.

"Kuartal III-2026 berpotensi menjadi kuartal terkuat tahun ini didukung pemulihan volume emas dan peningkatan volume bijih nikel," ujar Abida kepada Kontan, Rabu (17/6/2026).

Dengan dukungan tersebut, pendapatan ANTM pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 114,65 triliun atau tumbuh 35,5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Laba bersih diprediksi meningkat 23,6% secara tahunan menjadi Rp 8,91 triliun.

Tantangan dan Risiko yang Perlu Dicermati

Meski prospeknya menarik, sejumlah tantangan masih perlu diwaspadai.

Kenaikan biaya bahan bakar dan energi dapat mendorong cash cost bijih nikel naik sekitar 12%, berpotensi menekan margin operasional.

Perbedaan mekanisme penetapan harga feronikel (FeNi) yang mengacu pada HMA dengan harga pasar juga menjadi kendala. Namun, kontribusi segmen tersebut relatif kecil terhadap total pendapatan.

Abida mengingatkan potensi revisi RKAB pada pertengahan tahun dapat memicu volatilitas harga jual rata-rata (ASP) bijih nikel dalam jangka pendek.