>>> Yield SBN Tenor 10 Tahun Turun ke Level 6,9 Persen

Pergerakan harga emas global tetap menjadi faktor paling menentukan.

Dari sisi eksternal, pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi meningkatkan biaya energi impor. Ketidakpastian permintaan nikel dari China juga dapat memengaruhi harga jual bijih nikel.

Risiko kebijakan menjadi perhatian utama.

Abida menilai kenaikan tarif royalti merupakan skenario paling berisiko karena berdampak langsung terhadap seluruh lini bisnis bijih nikel yang menjadi kontributor terbesar pendapatan ANTM.

"Royalti menjadi risiko terbesar karena berdampak langsung terhadap profitabilitas bisnis nikel ore.

Sementara windfall tax masih sulit diestimasi, namun dampaknya dapat signifikan apabila harga emas tetap tinggi," kata Abida.

Penurunan ASP bijih nikel sebesar 10% berpotensi memangkas laba bersih sekitar Rp 1,3 triliun dan menurunkan valuasi wajar saham ANTM menjadi sekitar Rp 4.200 per saham.

Meski demikian, ANTM masih menjadi pilihan utama di sektor logam.

Dengan proyeksi PER 2026 sebesar 10,1 kali, saham ANTM diperdagangkan di bawah rata-rata historis lima tahunnya yang berada di level 12,9 kali.

"Kombinasi pertumbuhan laba yang solid, eksposur terhadap harga emas dan nikel, serta risiko regulasi yang relatif lebih terkelola dibandingkan emiten sejenis menjadi daya tarik utama ANTM," ujar Abida.

>>> Kinerja ANTM Kuartal III-2026 Diproyeksi Solid, Emas dan Nikel Jadi Pendorong

Dengan berbagai pertimbangan, Abida mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 4.800 per saham.