PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat lonjakan laba bersih sebesar 61,9 persen secara tahunan menjadi Rp3,4 triliun pada kuartal I-2026.

Kenaikan ini dipicu oleh harga emas yang lebih tinggi dan perbaikan fundamental bisnis nikel.

>>> 5 Alasan Galaxy Z Fold 8 Ultra Layak Dinantikan

Pendapatan dari kontrak dengan pelanggan mencapai Rp29,32 triliun, naik 12,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,1 triliun.

Namun, volume produksi beberapa komoditas justru menurun.

Produksi bijih nikel merosot 16,3 persen menjadi 3,9 juta wet metric ton (wmt), feronikel berkurang 11,6 persen menjadi 4.000 ton nikel, dan bauksit turun 3,8 persen menjadi 600.000 wmt.

Analis: Fundamental Membaik di Tengah Pengetatan Pasokan

Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, menilai fundamental ANTM menunjukkan perbaikan signifikan. Pengetatan pasokan bijih nikel menjaga margin tetap sehat.

Bisnis feronikel perseroan menghasilkan margin tunai sekitar US$2.500 per ton nikel dengan harga jual rata-rata US$14.500 per ton nikel.

Harga jual saprolit pada April 2026 mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$80 per wmt.

Penjualan emas tetap menjadi mesin pertumbuhan utama dengan realisasi kuartal I-2026 mencapai Rp23,89 triliun. Manajemen mulai mengalihkan fokus pada penjualan grosir untuk menjaga profitabilitas.

>>> Kreator Konten Wajib Miliki NIB Mulai 17 Juni 2026

Analis Phintraco Sekuritas, Vinna Nur Rachmawati, mengungkapkan bahwa ANTM memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang solid.

Ekspansi kapasitas dan integrasi bisnis dari hulu ke hilir menjadi kunci, khususnya di ekosistem baterai kendaraan listrik dan aluminium.

Vinna memproyeksikan pendapatan perseroan akan menembus Rp97,1 triliun pada tahun 2026 dan terus berlanjut hingga 2028.

Laba bruto diproyeksikan meningkat menjadi Rp15,3 triliun pada 2026 dan Rp22,2 triliun pada 2028.

Untuk menjaga tren pertumbuhan, ANTM menggarap sejumlah proyek strategis.

Proyek tersebut meliputi pabrik manufaktur logam mulia di Gresik, proyek RKEF dan HPAL di Halmahera Timur, hilirisasi nikel dengan Huayou, serta Smelter Grade Alumina di Mempawah.

Namun, industri pertambangan nasional masih dibayangi risiko kebijakan.

>>> Pablo Zabaleta Puji Strategi Timnas Argentina Maksimalkan Lionel Messi

Rencana badan ekspor terpusat, pungutan ekspor, kenaikan tarif royalti, wacana windfall tax, serta penundaan keputusan investasi akhir proyek HPAL bersama CATL menjadi perhatian investor.