PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) berhasil membalikkan kinerja keuangan dengan mencatat laba bersih sebesar Rp89,01 miliar pada kuartal I 2026.

Capaian ini kontras dengan kerugian yang dialami perseroan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

>>> Microsoft Izinkan PC Non-Copilot Jalankan AI Lokal Lewat GPU

Pendapatan usaha SSIA melonjak 35 persen menjadi Rp1,44 triliun pada kuartal pertama tahun ini, dibandingkan Rp1,07 triliun pada kuartal I 2025.

Lonjakan ini mendorong perseroan keluar dari posisi rugi bersih Rp21,70 miliar.

Penjualan Lahan Industri Meningkat Signifikan

Melalui anak usaha PT Suryacipta Swadaya (SCS), SSIA mencatat penjualan lahan industri seluas 8,2 hektare dengan nilai Rp169,1 miliar di kawasan Suryacipta Karawang dan Subang Smartpolitan.

Realisasi ini melonjak 105 persen dibandingkan kuartal I 2025 yang hanya 4 hektare senilai Rp88 miliar.

Hingga akhir kuartal I 2026, SCS memiliki backlog penjualan lahan sebesar Rp727,4 miliar atau setara 46,3 hektare.

Sebanyak 35,6 hektare dari backlog tersebut telah dibukukan pada April 2026 dengan nilai transaksi Rp524,1 miliar.

Kawasan industri Subang Smartpolitan menjadi penggerak utama pertumbuhan SSIA tahun ini, dengan mayoritas permintaan dari investor Asia.

Kebijakan suku bunga domestik dinilai tidak terlalu memengaruhi keputusan investasi karena sebagian besar calon penyewa berasal dari luar negeri.

>>> 6 Koleksi Mobil Mewah Widiyanti Putri, Menteri Terkaya RI

VP of Investor Relations & Corporate Communications SSIA, Erlin Budiman, mengatakan bahwa tenant yang masuk mungkin akan lebih terbatas, terutama yang terkait sektor konsumer.

Hal ini disebabkan kekhawatiran pelemahan konsumsi masyarakat di tengah kenaikan suku bunga.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan suku bunga berpotensi memberi tekanan kecil pada bisnis hotel bintang tiga BATIQA.