PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) diproyeksikan membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 19 persen pada tahun 2026. Capaian ini diperkirakan melampaui kinerja para pesaing di industri minuman kemasan.

Perusahaan yang dikendalikan taipan Hermanto Tanoko ini didorong oleh sejumlah katalis positif. Lonjakan volume penjualan dan ekspansi jaringan distribusi menjadi faktor utama.

>>> Pendaftaran Sekolah Swasta Gratis dan SPMB Bersama Jakarta 2026 Dibuka

Proyeksi tersebut menjadi amunisi bagi pergerakan saham CLEO menuju target harga tinggi. Informasi ini dilansir dari Investor Daily pada Rabu (17/6/2026).

Lima Faktor Pemicu Pertumbuhan

Riset dari Verdhana mencatat lima faktor utama yang memicu lonjakan laba bersih perseroan. Salah satunya adalah peralihan konsumsi masyarakat dari air rebusan ke air minum dalam kemasan.

Pangsa pasar CLEO juga meningkat seiring manuver sejumlah pesaing yang memangkas produksi. Selain itu, harga jual rata-rata produk perusahaan naik 6 persen sepanjang tahun 2026.

Faktor pendorong lainnya meliputi normalisasi biaya promosi, efisiensi biaya logistik melalui ekspansi jaringan distribusi hingga 26 persen, serta penggunaan kemasan daur ulang yang biayanya 50 persen lebih rendah dibanding bahan baku impor.

Verdhana mempertahankan rekomendasi beli untuk saham CLEO dengan target harga Rp620 per lembar.

>>> Republik Ceko dan Afrika Selatan Berebut Kemenangan Perdana di Piala Dunia 2026

Target ini mencerminkan potensi kenaikan 60 persen dari harga terakhir Rp386, berdasarkan rasio PER 2026 sebesar 32,8 kali.

Saat ini, CLEO mengoperasikan 32 pabrik dengan sebaran paling merata di antara pelaku industri FMCG di Indonesia. Perusahaan juga didukung jaringan 9.000 agen penjual.

Struktur valuasi premium dinilai sebanding dengan potensi pertumbuhan dan ketersediaan produk di pasar domestik.

Verdhana menambahkan bahwa CLEO berada di posisi tepat untuk melampaui kinerja pesaing karena ketersediaan produk yang memadai.

>>> DEN Isyaratkan Harga BBM Nonsubsidi Berpotensi Turun

Saham CLEO saat ini diperdagangkan dengan PER hanya 20 kali. Dengan berbagai katalis positif, pertumbuhan laba bersih 19 persen pada 2026 dinilai realistis.