Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengungkapkan peluang penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia.

Hal ini seiring rencana penandatanganan perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada 19 Juni mendatang.

>>> Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.762 per Dolar AS pada 17 Juni 2026

Penyesuaian harga komoditas tersebut dipicu oleh melemahnya harga minyak mentah Brent yang saat ini telah berada di bawah angka US$ 80 per barel.

Anggota DEN, Firman Hidayat, menjelaskan bahwa penurunan harga minyak mentah dunia secara otomatis akan memengaruhi harga produk BBM nonsubsidi di dalam negeri.

"Itu harusnya kayak harga solar yang untuk nonsubsidi, Pertamax, itu pelan-pelan bisa turun.

Apalagi kalau crude-nya bisa di bawah US$ 80 gitu kan, otomasis pasti akan ada penyesuaian lagi," ungkap Firman Hidayat.

Pihak DEN meyakini kesepakatan damai kedua negara tersebut akan menjaga stabilitas harga minyak dunia di bawah level US$ 80 per barel.

Terlebih kondisi pasokan global saat ini sedang mengalami surplus.

>>> Adobe dan Disney Imagineering Kolaborasi Pakai AI untuk Desain Taman Tema

"Sebelum perang, kondisi supply minyak di dunia itu sangat banyak, 3,8 juta barrel per day surplusnya. Yang terjadi gangguan harga hingga US$ 100 lebih karena masalah distribusi.

Ketika perang selesai, distribusi Hormuz bisa lebih lancar dan supply tetap banyak," terang Firman.

Sebelumnya, seluruh Badan Usaha (BU) milik negara maupun swasta di Indonesia kompak menaikkan tarif produk BBM nonsubsidi mereka.

PT Pertamina (Persero) mengerek harga Pertamax (RON 92) menjadi Rp 16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) menjadi Rp 17.000 per liter.

Langkah serupa juga diikuti oleh SPBU swasta seperti Vivo yang menjual Revvo 95 seharga Rp 17.140 per liter.

>>> UMS Buka Lowongan Staf Administrasi Umum International Office

BP menetapkan tarif BP 02 senilai Rp 16.670 per liter dan BP Ultimate sebesar Rp 17.240 per liter.