Harga minyak Brent turun ke level US$86,8 per barel pada 12 Juni 2026 setelah adanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Penurunan ini dipicu oleh ekspektasi dibukanya kembali Selat Hormuz serta menurunnya risiko gangguan pasokan energi global.

>>> 20 Contoh Catatan Wali Kelas di Rapor untuk Siswa Peringkat 1-5 dan Tidak Naik Kelas

Analis Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri, mengatakan bahwa bagi Indonesia, penurunan harga minyak menjadi sentimen positif.

Hal ini berpotensi menekan biaya impor, mengurangi tekanan inflasi, dan menurunkan risiko fiskal, yang turut mendukung penguatan rupiah dan IHSG.

Novani menilai kelanjutan reli pasar masih bergantung pada implementasi perjanjian damai, ketahanan gencatan senjata, pencabutan sanksi, dan normalisasi perdagangan energi.

Risiko eksternal lain yang perlu diwaspadai adalah kebijakan The Fed dan keputusan FOMC mendatang yang memengaruhi imbal hasil global, dolar AS, dan arus modal ke pasar negara berkembang.

Meredanya kekhawatiran atas klasifikasi pasar Indonesia juga mendukung sentimen positif menjelang tinjauan MSCI.

>>> PT Eshan Agro Sentosa Tingkatkan Kapasitas Karyawan Lewat Pelatihan

Jika Indonesia mempertahankan status pasar negara berkembang, arus masuk modal asing dan pemulihan valuasi diperkirakan berlanjut di pasar saham domestik.

Investor diperkirakan tetap selektif, lebih menyukai perusahaan dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan paparan terbatas terhadap ketidakpastian kebijakan.

Saham berkapitalisasi besar seperti BBCA dan TLKM diproyeksikan menjadi penerima manfaat utama dari masuknya kembali dana asing.

Untuk saham komoditas, produsen logam mulia seperti BRMS dinilai tetap menarik karena ketidakpastian geopolitik yang tersisa masih menyokong harga emas.

>>> EJAE Pakai Sneakers di Pembukaan Piala Dunia FIFA 2026 Demi Jaga Rumput Stadion

Di sektor konsumen, MYOR dan CMRY menonjol karena fundamentalnya yang tangguh, meskipun potensi dampak pelemahan daya beli perlu dipantau.