Ketidakpastian finansial belakangan ini kerap memicu perilaku doom spending di kalangan anak muda. Namun, mayoritas Generasi Z di Indonesia justru memupuk pandangan positif terhadap prospek karier mereka.

Nailla April (21), mahasiswa tingkat akhir di Surabaya, mengaku optimistis tetapi juga khawatir. "Sekarang banyak peluang kerja, tapi pesaing juga banyak dan standar perusahaan semakin tinggi," ujarnya.

>>> Microsoft Surface Pro dan Surface Laptop dengan Snapdragon X2 Resmi Diluncurkan

Rama Ramadhan (22) menambahkan bahwa kecerdasan buatan (AI) menjadi rintangan baru. "Saya optimis akan peluang kerja setelah lulus, meski persaingan ketat dan AI bisa menggantikan pekerjaan," katanya.

Adel Trisca (22) menekankan pentingnya peningkatan kompetensi berkelanjutan. Ia melihat wirausaha sebagai alternatif ketika bursa kerja formal sesak.

Tantangan Ekonomi dan Kompensasi Psikologis

Kesenjangan antara upah dan biaya hidup membuat kebebasan finansial sulit digapai. "Harga properti dan bahan pokok meroket, menghambat kondisi keuangan yang mapan," ujar Rama.

Nailla membandingkan, dulu beberapa tahun kerja sudah bisa beli rumah, kini harga rumah dan biaya hidup naik signifikan sementara pendapatan tidak sebanding.

>>> Kemenag Salurkan Insentif Guru Madrasah Non-ASN Akhir Juni 2026

Kesulitan ekonomi mendorong perilaku konsumtif sebagai kompensasi psikologis. Nailla sesekali memanjakan diri dengan rekreasi, namun tetap berusaha mengelola arus kas.

Adel dan Rama sepakat bahwa gaya hidup impulsif harus direm dan simpanan jangka panjang tetap dijaga.

Mereka berharap dukungan nyata dari pemerintah, seperti perluasan informasi lowongan, sokongan UMKM, dan perbaikan distribusi bantuan pendidikan.

>>> Qualcomm Luncurkan Snapdragon Reality Elite untuk Headset Premium

Rama menyoroti program KIP yang sering meleset sasaran. "Mungkin bisa diperketat atau dibuat program lain yang lebih baik untuk memberdayakan generasi muda," tutupnya.