Keinginan masyarakat Indonesia untuk menabung semakin menguat pada Mei 2026. Banyak konsumen menilai saat ini adalah momen tepat untuk memperkuat cadangan finansial.

Namun, gairah tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kapasitas finansial rumah tangga. Kebutuhan operasional harian dan biaya pendidikan masih membebani.

>>> Maxence Lacroix Janjikan Traktiran Pizza untuk Warga Ajat Selama Piala Dunia 2026

Fenomena ini tergambar dalam Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada Mei 2026 naik tipis ke 80,2 dari 79,7 pada April 2026.

Pertumbuhan IMK dipicu kenaikan Indeks Kemauan Menabung (IKMM) sebesar 1 poin menjadi 86,7. Sementara Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) stagnan di 73,6.

Kondisi ini menunjukkan kesenjangan antara niat dan kapasitas riil masyarakat. Hasrat menabung tumbuh, namun ruang finansial untuk merealisasikannya belum membaik signifikan.

Pihak LPS mengonfirmasi perbaikan kemauan menabung mengindikasikan lonjakan intensi konsumen. Daya simpan riil masih terhambat pengeluaran domestik yang tinggi.

Porsi responden yang menganggap saat ini waktu ideal menabung naik menjadi 25,5 persen pada Mei 2026, dari sebelumnya 23,5 persen.

Artinya, seperempat responden mulai melihat celah membenahi finansial.

Proyeksi masyarakat untuk tiga bulan mendatang stabil di 33,7 persen. Optimisme finansial tidak hanya jangka pendek, tetapi terjaga untuk beberapa bulan ke depan.

Frekuensi Menabung Naik, Target Belum Tercapai

Stagnasi IKPM mengindikasikan pemulihan daya tabung berjalan terbatas. Jumlah warga yang menabung konsisten justru bertambah.

Persentase responden yang rutin menabung naik menjadi 18,9 persen pada Mei 2026, dari 16,7 persen pada April 2026.

Ini menunjukkan upaya keras rumah tangga menjaga kebiasaan positif.