Kecemasan terhadap kondisi ekonomi serta pasar kerja ke depan membuat sejumlah pekerja kelas menengah memilih menahan belanja. Mereka lebih mengutamakan memperkuat tabungan daripada bersikap konsumtif.

Kekhawatiran ini dipicu oleh maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta kenaikan biaya hidup. Ketidakpastian prospek pekerjaan dalam beberapa tahun mendatang turut menjadi penyebab.

>>> Melindungi Data Pribadi dari Ancaman AI Generatif di Tahun 2026

Aziza (26), pekerja swasta di Jakarta, mengaku kurang optimistis melihat kondisi ekonomi dan pasar kerja dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Menurut dia, gelombang PHK di berbagai sektor membuat rasa aman pekerja semakin menurun.

"Semakin banyak sekali PHK terjadi di mana-mana.

Tidak hanya itu, kualitas pekerjaan ataupun benefit yang ditawarkan perusahaan juga tidak menjamin rasa aman kepada pekerja," ujar Aziza.

Aziza menilai banyak pekerjaan yang tersedia saat ini belum mampu menjamin kesejahteraan pekerja. Sebab, upah yang ditawarkan tidak selalu sebanding dengan biaya hidup yang terus meningkat.

Kondisi serupa dirasakan Deanda (30), pekerja swasta yang mulai cemas melihat kenaikan harga kebutuhan pokok. Kecemasan itu semakin besar karena pendapatan relatif tidak banyak berubah.

"Sebagai kelas menengah, saya melihatnya cukup suram. Harga kebutuhan semakin naik, sementara persaingan di pasar kerja juga semakin ketat," kata Deanda.

Ketidakpastian ekonomi bahkan memengaruhi keputusan pribadi dalam rumah tangga. "Ini sampai memengaruhi keputusan saya dan suami untuk menunda memiliki anak," ujar Deanda.

Sementara itu, Abel (28), karyawan swasta, menilai kondisi ekonomi saat ini belum memberi banyak ruang bagi pekerja untuk meningkatkan kesejahteraan.

"Semua harga pada naik, tapi kenaikan gaji hampir enggak pernah saya rasakan. Agak kurang optimistis dengan kondisi ekonomi ke depan," kata Abel.