Meskipun fenomena belanja impulsif akibat kecemasan atau doom spending marak di kalangan muda, ketiga pekerja tersebut justru menunjukkan kecenderungan sebaliknya.

>>> Rupiah Menguat Didorong Intervensi BI hingga Penyesuaian Belanja Negara

Aziza mengaku rutin menyisihkan sekitar 40 persen pendapatannya untuk ditabung setiap bulan.

Menurut dia, kondisi ekonomi yang tidak menentu membuatnya lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan.

"Saya memilih menabung karena kondisi perekonomian yang sangat tidak menentu ditambah pasar kerja yang kritis membuat saya tidak percaya diri untuk mengeluarkan uang lebih dari budget bulanan yang sudah saya tetapkan," ujar Aziza.

Deanda juga memilih menyimpan bonus atau pendapatan tambahan dalam bentuk tabungan dan emas. Ia menilai emas lebih aman karena tidak mudah dicairkan untuk konsumsi harian.

"Kami (dengan suami) prefer ke emas karena masih melihat emas sebagai safe haven dan tidak bisa langsung dibelanjakan, jadi uang tidak cepat habis," kata Deanda.

Abel juga berusaha menyisihkan sekitar seperempat gajinya untuk ditabung. Upaya itu tetap dilakukan meski sebagian besar pendapatannya habis untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya tempat tinggal.

"Pengen buat nabung dan investasi sih. Soalnya saya sadar tidak ada yang bisa nolongin saya ketika situasi ekonomi memburuk," ujar Abel.

Stimulus Belum Dirasakan

Aziza mengatakan, bantuan yang paling terasa hanya diskon tarif listrik yang sempat diberikan pemerintah. Selain itu, ia tidak merasakan dampak signifikan dari program stimulus yang diluncurkan pemerintah.

"Sejauh ini stimulus pemerintah yang benar terasa oleh kaum menengah hanya stimulus listrik tahun lalu," kata Aziza.

Deanda juga mengaku belum merasakan manfaat langsung dari stimulus pemerintah. "Enggak ada efeknya ke saya," ujarnya.

Senada, Abel menilai pekerja kelas menengah belum menjadi sasaran utama program bantuan pemerintah. Padahal, kelompok ini kerap disebut sebagai bantalan ekonomi.

>>> Cristiano Ronaldo Pimpin Portugal Hadapi Republik Demokratik Kongo di Piala Dunia 2026

"Kelas pekerja itu masuk kelas menengah yang katanya jadi bantalan ekonomi. Tapi tidak ada stimulus spesifik yang diberikan untuk kelas menengah," kata Abel.