Dominasi dollar Amerika Serikat dalam utang luar negeri Indonesia masih kokoh, namun porsi yuan China menunjukkan pertumbuhan paling pesat dalam satu dekade terakhir.

Data Bank Indonesia melalui Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) per Juni 2026 menunjukkan tren peningkatan posisi utang berdenominasi yuan secara konsisten.

>>> Anggota DPR: Penyesuaian Harga Pertamax Jaga Keberlanjutan Energi Nasional

Pada 2013, nilai utang dalam yuan tercatat hanya 476 juta dollar AS atau setara Rp 8,45 triliun.

Angka ini merangkak naik menjadi 1,54 miliar dollar AS pada 2018, dan terus meningkat hingga 4,53 miliar dollar AS pada 2022.

Lonjakan berlanjut pada 2023 menjadi 7,47 miliar dollar AS, lalu menyentuh 9,81 miliar dollar AS pada 2024.

Pada April 2025, posisinya mencapai 10,73 miliar dollar AS, dan naik menjadi 14,87 miliar dollar AS pada Desember 2025.

Memasuki April 2026, nilainya kembali meroket hingga 17,24 miliar dollar AS atau sekitar Rp 306,3 triliun.

Secara akumulasi, utang berdenominasi yuan telah melesat lebih dari 36 kali lipat dibandingkan posisi 2013.

Dollar AS Masih Mendominasi

Meskipun yuan mengalami kenaikan porsi yang signifikan, jumlahnya masih jauh di bawah utang berdenominasi dollar AS.

Berdasarkan SULNI Juni 2026, dollar AS mencapai 269,25 miliar dollar AS pada April 2026.

Selain dollar AS dan yuan, portofolio utang luar negeri Indonesia juga mencakup euro sebesar 40,68 miliar dollar AS, yen Jepang 18,98 miliar dollar AS, Special Drawing Rights (SDR) 8,95 miliar dollar AS, dan rupiah setara 81,58 miliar dollar AS.

Berbeda dengan yuan yang konsisten menanjak, posisi utang dalam yen Jepang justru menurun dari 29,96 miliar dollar AS pada 2013 menjadi 18,98 miliar dollar AS pada April 2026.