Utang Luar Negeri Indonesia dalam Yuan Melonjak 36 Kali Lipat dalam Satu Dekade
Total Utang Luar Negeri Tumbuh Moderat
Secara keseluruhan, Bank Indonesia mencatat total posisi utang luar negeri Indonesia pada April 2026 sebesar 439,8 miliar dollar AS atau setara Rp 7.812 triliun.
>>> Potongan Pajak JHT Capai Rp15 Juta, Pekerja Kaget Saat Cairkan Dana BPJS Ketenagakerjaan
Angka tersebut tumbuh 1,9 persen secara tahunan, lebih tinggi dari pertumbuhan Maret 2026 yang sebesar 1,0 persen.
Bank Indonesia menyebut perkembangan ini dipengaruhi pertumbuhan utang sektor publik di tengah kontraksi utang swasta.
Utang pemerintah tercatat sebesar 216,4 miliar dollar AS dengan pertumbuhan tahunan 3,7 persen, sementara utang swasta sebesar 193,2 miliar dollar AS mengalami kontraksi 0,7 persen.
Bank Indonesia menjelaskan perlambatan pinjaman luar negeri memengaruhi pertumbuhan utang pemerintah, namun aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatat net inflow.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan bahwa Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi untuk menjaga struktur utang luar negeri tetap sehat.
Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) bertahan stabil di angka 29,6 persen per April 2026, dengan dominasi utang jangka panjang mencapai 84,5 persen.
Untuk utang pemerintah, struktur jangka panjang mendominasi secara mutlak dengan pangsa 99,99 persen.
Sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial menyerap 22,0 persen dari total utang pemerintah, diikuti administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,5 persen.
Sektor produktif lain yang memanfaatkan dana ini meliputi jasa pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen.
Di sisi swasta, penurunan pada kelompok peminjam lembaga keuangan sebesar 5 persen secara tahunan memicu kontraksi.
>>> Menhub Pastikan Stasiun Gambir Disulap Jadi Stasiun Nasional
Namun, 75,8 persen dari total utang swasta merupakan utang jangka panjang, dengan porsi terbesar di sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian yang mencapai 79,6 persen.
Update Terbaru
Yayan Ruhian Gunakan Busur Panah Jarak Dekat di Film The Furious
Rabu / 17-06-2026, 21:36 WIB
Prabowo Panggil Mendiktisaintek ke Hambalang Bahas Mineral Kritis
Rabu / 17-06-2026, 21:35 WIB
Samsung Galaxy XR Resmi Meluncur di Inggris, Pre-order Dibuka
Rabu / 17-06-2026, 21:34 WIB
Ilmuwan Terkejut Temukan 'Kuburan Paus' Terbesar di Dunia Berusia Jutaan Tahun
Rabu / 17-06-2026, 21:34 WIB
Re:ZERO Season 4 Rilis Visual Arc Baru dan Video Spesial "Stay Alive"
Rabu / 17-06-2026, 21:32 WIB
Bank Sampoerna Luncurkan Deposito Digital, Target Milenial dan Investor Pemula
Rabu / 17-06-2026, 21:32 WIB
Chevy C10 Klasik Ini Ternyata Silverado Baru, Harganya Rp7 Miliar
Rabu / 17-06-2026, 21:30 WIB
AS Larang Akses Internasional ke AI Anthropic demi Keamanan Siber
Rabu / 17-06-2026, 21:30 WIB
IHSG Melemah ke Level 6.220, Asing Borong Saham BBRI dan BBCA
Rabu / 17-06-2026, 21:29 WIB
Serangan DDoS terhadap Organisasi di Indonesia Melonjak 62 Persen
Rabu / 17-06-2026, 21:28 WIB
Jadwal Pengumuman Administrasi CASN Sekolah Rakyat 2026 Mundur
Rabu / 17-06-2026, 21:28 WIB
Lionel Messi Cetak Hattrick, Argentina Bantai Aljazair 3-0 di Piala Dunia 2026
Rabu / 17-06-2026, 21:24 WIB
Persebaya Rekrut Ramadhan Sananta dan Empat Pemain Baru
Rabu / 17-06-2026, 21:20 WIB
Lip Serum Mampu Cerahkan Bibir Gelap Melalui Kandungan Bahan Aktif
Rabu / 17-06-2026, 21:20 WIB






