AS Larang Akses Internasional ke AI Anthropic demi Keamanan Siber

Pemerintah Amerika Serikat melarang pemerintah asing, perusahaan, dan individu di luar negaranya untuk mengakses model kecerdasan buatan komersial terbaru milik Anthropic.
Keputusan ini diambil pada Jumat lalu demi menjaga keamanan publik dari ancaman siber massal.
>>> IHSG Melemah ke Level 6.220, Asing Borong Saham BBRI dan BBCA
Langkah drastis tersebut diambil oleh administrasi Trump setelah adanya laporan dari Amazon. Laporan itu menunjukkan pengguna masih dapat memanipulasi model Fable untuk menemukan kerentanan siber.
Intervensi ini memuncak setelah pembaruan Mythos 5 dan versi Fable 5 dirilis oleh Anthropic.
Menteri Perdagangan Howard Lutnick segera memberikan ultimatum kepada CEO Anthropic, Dario Amodei, untuk menutup akses internasional atau menghadapi sanksi berat.
Fenomena Bugmageddon dan Ancaman Siber
Ketegangan ini dipicu oleh fenomena Bugmageddon, di mana model kecerdasan buatan Mythos terbukti mampu menemukan dan mengeksploitasi celah keamanan perangkat lunak pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebelumnya pada Maret lalu, peneliti keamanan Anthropic, Nicholas Carlini, mempresentasikan temuan mengejutkan di San Francisco di hadapan 700 pakar keamanan siber.
Ia berhasil menemukan bug kritis pada perangkat lunak Ghost dan sistem operasi Linux.
>>> Serangan DDoS terhadap Organisasi di Indonesia Melonjak 62 Persen
Carlini mengirimkan memo internal agar perusahaan menunda perilisan Mythos karena kemampuan model AI saat ini dinilai telah melampaui kemampuan manusia dalam riset kerentanan siber.
"Sangat jelas bagi saya bahwa model-model ini adalah peneliti kerentanan yang lebih baik daripada saya," ujarnya.
Hingga saat ini, Mythos tercatat telah menemukan lebih dari 10.000 bug, termasuk 479 celah keamanan Linux dalam hitungan hari.
Model ini juga berhasil meretas lebih dari 700 situs web berbasis Ghost.
Anthropic kini berada di posisi sulit karena teknologi dengan estimasi valuasi 1 triliun dolar AS atau hampir Rp17.000 triliun tersebut dianggap sebagai senjata siber yang berbahaya.
Industri keamanan siber mengkhawatirkan berakhirnya keseimbangan antara penyerang dan bertahan yang telah terjaga selama dua dekade terakhir.
>>> Jadwal Pengumuman Administrasi CASN Sekolah Rakyat 2026 Mundur
Perusahaan besar kini khawatir tidak mampu merilis patch keamanan sebelum peretas memanfaatkan celah yang ditemukan oleh kecerdasan buatan.
Update Terbaru
Messi Lolos Kartu Usai Tekel Horor Lawan Aljazair, Kontroversi Mewarnai Laga
Rabu / 17-06-2026, 22:44 WIB
BSI Salurkan Pembiayaan Kendaraan Rp6,62 Triliun hingga April 2026
Rabu / 17-06-2026, 22:44 WIB
Jeff Bezos Prediksi AI Justru Picu Kekurangan Tenaga Kerja
Rabu / 17-06-2026, 22:44 WIB
RMI dan SAKA PBNU Gelar Pelatihan Musyrif-Musyrifah Cegah Kekerasan di Pesantren
Rabu / 17-06-2026, 22:44 WIB
Pertamina Hulu Kalimantan Timur Tambah Produksi Minyak di Lapangan Sejadi
Rabu / 17-06-2026, 22:44 WIB
Portugal Hadapi RD Kongo di Piala Dunia 2026 Tanpa Ruben Dias
Rabu / 17-06-2026, 22:40 WIB
Persebaya Surabaya Resmi Rekrut Ramadhan Sananta untuk Liga Super 2026-2027
Rabu / 17-06-2026, 22:39 WIB
Izzky Alvaro Gelar Resepsi Pernikahan Sederhana Setelah Tertunda Lima Tahun
Rabu / 17-06-2026, 22:36 WIB
Revisi UU Hak Cipta Terburu-buru Dinilai Hambat Inovasi dan Edukasi
Rabu / 17-06-2026, 22:36 WIB
Kiki's Delivery Service Diadaptasi Jadi Serial Live Action Pertama Studio Ghibli
Rabu / 17-06-2026, 22:35 WIB
Erick Thohir Sambut Positif Penunjukan Todotua Pasaribu sebagai CdM Asian Games 2026
Rabu / 17-06-2026, 22:35 WIB
Kemensos Salurkan BPNT Juni 2026 Rp600 Ribu, Cek via HP Sekarang
Rabu / 17-06-2026, 22:35 WIB
Penjualan Ritel AS Mei 2026 Melonjak 0,9%, Lampaui Ekspektasi Pasar
Rabu / 17-06-2026, 22:30 WIB
Erling Haaland Cetak Dua Gol dan Jaga Rekor Debut Bersejarah
Rabu / 17-06-2026, 22:28 WIB






