Penjualan ritel di Amerika Serikat pada Mei 2026 mencatat pertumbuhan yang melampaui ekspektasi pasar.

Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan kenaikan 0,9% secara bulanan, lebih tinggi dari proyeksi ekonom dalam survei Reuters yang sebesar 0,5%.

>>> Erling Haaland Cetak Dua Gol dan Jaga Rekor Debut Bersejarah

Angka April juga direvisi ke bawah dari 0,5% menjadi 0,4%. Secara tahunan, penjualan ritel melonjak 6,9% pada Mei, menandai ekspansi empat bulan berturut-turut.

Faktor Pendorong: Harga Bensin dan Sektor Otomotif

Kenaikan penjualan ritel didorong oleh melambungnya harga bahan bakar.

Pendapatan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) naik 3,4% setelah sebelumnya tumbuh 2,4% pada April.

Secara tahunan, penjualan SPBU melonjak drastis 26,5%. Harga bensin sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun akibat konflik AS-Iran, namun kemudian melandai.

Sektor otomotif juga berkontribusi signifikan dengan pertumbuhan penjualan dealer mobil sebesar 1,2% pada Mei.

Sementara itu, penjualan ritel nontoko termasuk platform belanja daring melesat 1,5%, dan toko furnitur naik 1,0%.

Tren positif juga terjadi di sektor kesehatan, perawatan pribadi, pakaian, serta perlengkapan olahraga, hobi, alat musik, dan buku.

Namun, bisnis layanan makanan dan tempat minum turun tipis 0,1%.

Penjualan toko bahan bangunan, peralatan rumah, dan perlengkapan taman stagnan, begitu pula jaringan toko makanan dan minuman. Sektor elektronik dan peralatan rumah tangga justru terkoreksi 0,5%.

>>> PWNU Jateng dan DIY Tolak Pembatasan Keanggotaan Ahwa

Kekhawatiran Perlambatan Konsumsi

Meski data menunjukkan ketahanan konsumsi, sejumlah ekonom memperingatkan potensi perlambatan. Stimulus dari pengembalian pajak mulai menyusut, sementara inflasi terus menggerogoti daya beli.

Kepala Ekonom AS BMO Capital Markets Scott Anderson mengatakan kekuatan laporan penjualan ritel akan menimbulkan peringatan di The Fed saat mereka berupaya meredam tekanan inflasi.