Bank of Japan (BOJ) resmi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Langkah ini menjadi pengetatan moneter tertinggi sejak tahun 1995.

Keputusan strategis tersebut diambil untuk mengendalikan lonjakan inflasi dan menahan pelemahan nilai tukar yen. Kebijakan ini ditetapkan melalui mekanisme pemungutan suara mayoritas dengan hasil akhir tujuh banding satu.

>>> Tottenham Hotspur Siap Bersaing untuk Sandro Tonali di Bursa Transfer 2026

Anggota dewan Toichiro Asada menjadi satu-satunya pihak yang menolak kenaikan tersebut. Ia memilih opsi mempertahankan level suku bunga sebelumnya.

Respons Pasar dan Dampak Ekonomi

Pasar merespons positif pengumuman tersebut.

Indeks Nikkei 225 tercatat menguat sebesar 0,46 persen, sementara yen bergerak menguat tipis ke posisi 160,22 per dolar AS.

Di pasar surat utang, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 3 basis poin menuju level 2,615 persen.

Pergerakan ini mencerminkan reaksi langsung pelaku pasar terhadap pengetatan moneter.

BOJ menegaskan komitmennya untuk melanjutkan program pengurangan pembelian obligasi pemerintah senilai 200 miliar yen per kuartal. Langkah tapering ini dijadwalkan selesai secara bertahap dalam beberapa periode ke depan.

Setelah seluruh proses tapering tuntas, bank sentral berencana mempertahankan volume pembelian obligasi pemerintah Jepang (JGB) sebesar 2 triliun yen per bulan mulai April 2027.

Inflasi dan Tekanan Harga

BOJ menjelaskan bahwa inflasi konsumen di Jepang masih berada di bawah target 2 persen.

Kondisi ini dipengaruhi oleh intervensi kebijakan pemerintah yang meringankan beban pengeluaran rumah tangga dari tingginya harga energi.

Meski demikian, BOJ memberikan peringatan mengenai pergerakan harga minyak mentah yang mulai diteruskan ke sektor bisnis dengan tempo relatif cepat.