Bank of Japan (BOJ) secara agresif menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0 persen pada Selasa (16/6/2026).

Kebijakan moneter ini diambil untuk mengatasi depresiasi nilai tukar yen dan mengendalikan lonjakan inflasi domestik.

>>> Cara Cek Kategori Desil Bansos PKH dan BPNT Lewat HP

Pengetatan ini mengantarkan suku bunga Jepang ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, sejak 1995.

Lonjakan harga energi akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya tekanan inflasi di negara tersebut.

Sebelumnya, pelemahan yen sempat menyentuh level 160 per dolar AS sepanjang Juni 2026.

Pemerintah telah menggelontorkan dana intervensi pasar sebesar 11,7 triliun yen pada Mei lalu.

Menyikapi situasi ekonomi ini, Perdana Menteri Sanae Takaichi mengalokasikan anggaran tambahan 3 triliun yen untuk melindungi daya beli rumah tangga dari kenaikan biaya energi.

Kewaspadaan terhadap Inflasi dan Rantai Pasok

Wakil Gubernur BOJ Shinichi Uchida menjelaskan bahwa otoritas moneter kini semakin meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi perluasan kenaikan harga barang di pasar domestik.

"Inflasi inti semakin mendekati target 2 persen dan terdapat risiko kenaikan harga yang lebih luas," kata Shinichi Uchida.

Meskipun tensi geopolitik global mulai mereda menyusul kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran, BOJ menilai ketidakpastian rantai pasok komoditas energi masih tetap tinggi.

"Dibandingkan pertemuan sebelumnya, memang ada kemajuan setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan. Namun masih terdapat ketidakpastian mengenai pemulihan distribusi minyak," ujar Shinichi Uchida.

>>> Masyarakat Perlu Terapkan Mindful Spending di Tengah Kenaikan Biaya Hidup

Di sisi lain, kondisi fundamental ekonomi Jepang dinilai menunjukkan tren perbaikan seiring dengan semakin kuatnya sinkronisasi antara pertumbuhan upah pekerja dan penyesuaian harga jual oleh korporasi.