Penjarahan Sawit di PTPN IV Cot Girek Rugikan Negara Miliaran Rupiah
Aktivitas penjarahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di wilayah Cot Girek, Kabupaten Aceh Utara, diduga dilakukan secara terorganisir dalam beberapa bulan terakhir.
Peristiwa ini menyebabkan kerugian mencapai miliaran rupiah dan berdampak langsung terhadap operasional PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) selaku pengelola perkebunan.
>>> Influencer Australia Meninggal Usai Tolak Bantuan Medis Saat Melahirkan
Kepala Sub Bagian Kesekretariatan dan Humas PTPN IV, Abdul Chalid, membenarkan aksi kriminalitas tersebut.
"Memang benar aksi penjarahan di Kebun Cot Girek telah berdampak signifikan terhadap pendapatan perusahaan sebagai perusahaan negara dan juga masyarakat setempat yang menjadi petani sawit sekaligus pekerja kebun," ujar Abdul Chalid.
Manajemen menekankan pentingnya penguatan penegakan hukum melalui mekanisme yang berlaku demi menjaga stabilitas sosial dan memberikan kepastian bagi para karyawan.
Koordinasi berkelanjutan terus dijalankan bersama aparat penegak hukum dan pemerintah daerah guna mengatasi hambatan keamanan yang membuat sebagian sumber daya dialihkan untuk pengamanan aset.
Dampak penurunan produksi akibat pencurian ini juga dirasakan secara langsung oleh karyawan lapangan yang mengalami pemotongan insentif akibat performa kebun yang merosot.
Seorang karyawan Kebun Cot Girek, M.
>>> Luhut: Perlinsos Digital Berpotensi Hemat Anggaran Rp260 Triliun
Yusuf, menyatakan bahwa hilangnya buah kelapa sawit di area kerja mereka sangat memengaruhi pendapatan tambahan yang biasanya diterima para pekerja.
"Kami yang bekerja di kebun sangat merasakan dampaknya. Ketika produksi turun karena buah banyak hilang di lapangan, perusahaan tentu kehilangan pendapatan.
Akibatnya, premi yang biasanya menjadi tambahan penghasilan bagi karyawan juga ikut berkurang," ujar M. Yusuf.
Yusuf menambahkan, situasi di lapangan saat ini membutuhkan pengamanan bersama agar produktivitas tempat kerja mereka dapat berjalan normal dan kembali memberikan kontribusi ekonomi bagi daerah sekitar.
"Kami hanya ingin bekerja dengan tenang dan hasil kebun bisa dinikmati sebagaimana mestinya untuk kepentingan perusahaan, pekerja, dan masyarakat sekitar.
Kalau kondisi ini terus berlangsung, yang paling merasakan dampaknya bukan hanya perusahaan, tetapi juga keluarga-keluarga karyawan yang hidup dari sektor perkebunan," terang M.
>>> Penelitian: Spons Dapur Lepaskan Mikroplastik, Tapi Dampak Utamanya Bukan Itu
Yusuf.
Update Terbaru
Izzky Alvaro Gelar Resepsi Pernikahan Sederhana Setelah Tertunda Lima Tahun
Rabu / 17-06-2026, 22:36 WIB
Revisi UU Hak Cipta Terburu-buru Dinilai Hambat Inovasi dan Edukasi
Rabu / 17-06-2026, 22:36 WIB
Kiki's Delivery Service Diadaptasi Jadi Serial Live Action Pertama Studio Ghibli
Rabu / 17-06-2026, 22:35 WIB
Erick Thohir Sambut Positif Penunjukan Todotua Pasaribu sebagai CdM Asian Games 2026
Rabu / 17-06-2026, 22:35 WIB
Kemensos Salurkan BPNT Juni 2026 Rp600 Ribu, Cek via HP Sekarang
Rabu / 17-06-2026, 22:35 WIB
Penjualan Ritel AS Mei 2026 Melonjak 0,9%, Lampaui Ekspektasi Pasar
Rabu / 17-06-2026, 22:30 WIB
Erling Haaland Cetak Dua Gol dan Jaga Rekor Debut Bersejarah
Rabu / 17-06-2026, 22:28 WIB
PWNU Jateng dan DIY Tolak Pembatasan Keanggotaan Ahwa
Rabu / 17-06-2026, 22:28 WIB
Portugal vs RD Kongo di Piala Dunia 2026: Rúben Dias Absen
Rabu / 17-06-2026, 22:25 WIB
DPRD Kota Malang Akui Kesalahan Cetak Bukti Laporan WhatsApp
Rabu / 17-06-2026, 22:24 WIB
Bonek Padati Gelora 10 November Sambut HUT ke-99 Persebaya
Rabu / 17-06-2026, 22:24 WIB
Arema FC Permanenkan Hansamu Yama dan Pulangkan Hamzah Titofani
Rabu / 17-06-2026, 22:20 WIB
Ruben Dias Dipastikan Absen di Laga Perdana Portugal vs Kongo
Rabu / 17-06-2026, 22:20 WIB
DPRD Kota Malang Janji Salurkan Aspirasi Mahasiswa ke DPR RI
Rabu / 17-06-2026, 22:19 WIB






