Ratusan mahasiswa dari Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya (Amarah Brawijaya) menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur, pada Senin (15/6/2026).

Aksi bertajuk "Indonesia Gawat Darurat" ini dipicu oleh pernyataan anggota dewan dan temuan berkas laporan WhatsApp yang belum terkirim ke pemerintah pusat sejak tahun lalu.

>>> Bonek Padati Gelora 10 November Sambut HUT ke-99 Persebaya

Ketegangan muncul saat Anggota Pimpinan DPRD Kota Malang dari Fraksi Gerindra, Rimzah, menyampaikan pernyataan yang dinilai membela Presiden Prabowo Subianto.

"Karena apa?

karena sebetulnya saya sendiri bersaksi Pak Presiden, Pak Prabowo Subianto adalah orang yang ikhlas mengabdikan hidupnya," kata Rimzah.

Pernyataan itu langsung ditolak keras oleh demonstran. Mahasiswa meneriakkan ketidakpercayaan dan mendesak jawaban berbasis data, bukan pembelaan individu.

Situasi semakin tegang ketika perwakilan mahasiswa memotong pembicaraan dan meminta kejelasan konkret dari DPRD Kota Malang.

"Kami minta bapak Ibu di sini to the point saja jangan kemudian kemana-mana. Langsung data Bapak," tegas perwakilan massa.

Suasana dialog kian menyudutkan pihak legislatif setelah orator mahasiswa menemukan dokumen cetak laporan WhatsApp yang dibawa dewan masih berstatus centang satu.

Dokumen tertanggal 3 September 2025 itu berisi draf tuntutan demo mahasiswa yang dikirimkan Ketua DPRD Kota Malang kepada anggota dewan lainnya.

>>> Arema FC Permanenkan Hansamu Yama dan Pulangkan Hamzah Titofani

"Chat-nya seperti ini tapi centang satu kawan-kawan, yang pertama ini centang satu Ibu.

Kalau centang satu masa anak kecil saja tahu kalau ini belum tersampaikan ke pusat," kata orator.

Orator mahasiswa kemudian meminta klarifikasi langsung dari Ketua DPRD Kota Malang terkait status pengiriman pesan yang sudah berumur hampir satu tahun.

"Monggo ditanggapi Bu Dewan. ini dikirimkan 3 September 2025, sekarang 2026," ucap orator.

Menanggapi temuan tersebut, Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita melakukan pengecekan ulang di hadapan massa aksi.

Amithya menjelaskan bahwa dokumen laporan melalui email sebenarnya telah berhasil dikirimkan, namun ia mengakui adanya kelalaian dalam berkas cetak pesan WhatsApp.

"Sebentar. Oke, yang ini yang bukti email ini sudah terkirim.

Ini bukti WhatsApp. Oke saya mengakui ini salah," ungkap Amithya.

>>> Ruben Dias Dipastikan Absen di Laga Perdana Portugal vs Kongo

Untuk meredam protes dan menepis isu manipulasi data, DPRD Kota Malang mempersilakan perwakilan Aliansi Amarah Brawijaya mendokumentasikan berkas laporan terbaru sebagai bentuk transparansi publik.