Yield SBN Tenor 10 Tahun Turun ke Level 6,9 Persen
Imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mulai bergerak turun ke kisaran 6,9 persen pada Rabu (17/6/2026).
Sebelumnya, yield sempat menyentuh angka 7,5 persen pada pekan lalu.
>>> Kinerja ANTM Kuartal III-2026 Diproyeksi Solid, Emas dan Nikel Jadi Pendorong
Penurunan ini terjadi seiring meredanya tekanan jual di pasar obligasi domestik.
Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan dinilai pasar sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan kondisi makroekonomi.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 9 Juni 2026 memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Keputusan ini menyusul kenaikan 50 basis poin pada RDG Mei 2026 yang mengubah suku bunga dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen.
Normalisasi Pasar Obligasi
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai penyusutan yield SBN sebagai proses normalisasi.
Pasar obligasi juga ditopang oleh tingkat real yield Indonesia yang tetap kompetitif di kawasan dan keberadaan Bond Stabilization Fund (BSF).
>>> Tata Cara Mandi Wajib Setelah Berhubungan Suami Istri: Rukun dan Sunnah
"Pada saat yang sama, yield yang tinggi kembali menarik minat investor karena menawarkan kompensasi risiko yang menarik," ujar Yusuf.
Ia menambahkan bahwa stabilitas pasar obligasi saat ini lebih banyak digerakkan oleh permintaan riil pasar dan tidak sepenuhnya bergantung pada intervensi BI.
Terkait prospek paruh kedua tahun 2026, Yusuf memperkirakan pasar obligasi akan memasuki fase stabilisasi.
Proyeksi yield bergerak di kisaran 6,5 persen hingga 7,0 persen hingga akhir tahun.
"Bagi investor yang lebih konservatif, tenor menengah sekitar tiga hingga lima tahun menawarkan keseimbangan yang lebih baik antara imbal hasil dan risiko fluktuasi harga," kata Yusuf.
Faktor eksternal seperti arah kebijakan moneter global dan pergerakan dolar AS tetap membayangi pergerakan yield SBN ke depan.
>>> Kebakaran Hanguskan Tujuh Kios di Pasar Tulikup Gianyar
Investor disarankan menerapkan strategi pembelian bertahap atau dollar cost averaging (DCA) untuk memitigasi risiko ketidakpastian global yang masih tinggi.
Update Terbaru
Cara Membuat SIM Digital Lewat HP di Aplikasi Digital Korlantas
Rabu / 17-06-2026, 20:44 WIB
Meta Batasi Birokrasi dan Tambah Anggaran demi Dongkrak Semangat Karyawan
Rabu / 17-06-2026, 20:44 WIB
Saham Merdeka Battery Materials Menguat Usai Umumkan Buyback Rp1,46 Triliun
Rabu / 17-06-2026, 20:44 WIB
Bocoran Galaxy Z Fold 8: Harga Lebih Mahal dari Z Fold 7
Rabu / 17-06-2026, 20:44 WIB
Modifikasi Genetik Muncul Tanpa Jejak Orang Tua, Ilmuwan Bingung
Rabu / 17-06-2026, 20:44 WIB
Kementerian ESDM Terapkan Biodiesel B50 Mulai 1 Juli 2026
Rabu / 17-06-2026, 20:39 WIB
Enam Daerah Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Juni 2026
Rabu / 17-06-2026, 20:39 WIB
Toyota Beri Garansi Baterai Veloz Hybrid hingga 8 Tahun
Rabu / 17-06-2026, 20:37 WIB
PBSI Gelar Simulasi Internal Antisipasi Regulasi Baru BAJC 2026
Rabu / 17-06-2026, 20:36 WIB
Hubungan Klopp dan Werner di RB Leipzig Retak Total
Rabu / 17-06-2026, 20:36 WIB
Toyota Luncurkan Veloz Hybrid Tipe Tertinggi dengan Skema Kredit Resmi
Rabu / 17-06-2026, 20:36 WIB
Mojang Rilis Minecraft Java Edition 26.2 Chaos Cubed dengan Gua Sulfur dan Mob Baru
Rabu / 17-06-2026, 20:36 WIB
OVO dan Finansialku Edukasi Cegah Gaji Numpang Lewat di Era Cashless
Rabu / 17-06-2026, 20:36 WIB
Real Madrid Resmi Rekrut Bernardo Silva Gratis Selama Dua Musim
Rabu / 17-06-2026, 20:36 WIB






