Hukum pewarisan sifat Gregor Mendel yang telah menjadi dasar genetika selama lebih dari satu abad kini mendapat tantangan serius.

Sebuah studi yang diterbitkan di Nature Genetics pada 20 Mei 2026 mengungkap bahwa sekitar 7% pola pewarisan epigenetik pada tikus tidak mengikuti aturan Mendel.

>>> Kementerian ESDM Terapkan Biodiesel B50 Mulai 1 Juli 2026

Peneliti dari Johns Hopkins University dan Texas A&M University menganalisis tiga generasi tikus dan menemukan 522 kasus penyimpangan dari pola standar.

Epigenetik sendiri merujuk pada modifikasi kimia pada DNA yang mengubah aktivitas gen tanpa mengubah urutan genetik itu sendiri.

Sifat Muncul dari Kedua Orang Tua yang Tidak Memilikinya

Fenomena paling mengejutkan adalah 54 peristiwa emergen, di mana tanda epigenetik muncul pada keturunan tetapi tidak ada pada kedua orang tua.

Dalam satu kasus, dua tikus induk sama-sama tidak memiliki metilasi pada alel tertentu, namun anak mereka memiliki metilasi pada kedua salinan alel tersebut.

"Metilasi tampaknya muncul entah dari mana," kata Dr. Andrew Feinberg, profesor di Johns Hopkins University School of Medicine dan salah satu penulis senior studi.

Temuan ini menunjukkan bahwa sifat epigenetik dapat muncul pada keturunan melalui mekanisme yang independen dari status genetik atau epigenetik orang tua.

Paramutasi Pertama pada Mamalia

Studi ini juga mendokumentasikan contoh pertama paramutasi pada mamalia. Proses ini terjadi pada gen Capn11 yang mengatur perkembangan sperma normal.

Mutasi pada versi manusia dari gen ini berkorelasi dengan infertilitas pria dan gangguan sperma.

>>> Enam Daerah Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Juni 2026

Paramutasi adalah interaksi epigenetik di mana alel yang termetilasi memicu metilasi pada alel tetangga yang sebelumnya tidak termetilasi.