Pasar keuangan global menaruh perhatian besar pada hasil rapat kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang dijadwalkan rilis pada Rabu (17/6/2026) waktu setempat.

Namun, perhatian pelaku pasar kali ini beralih dari sekadar keputusan suku bunga.

>>> Sudinhub Jakarta Utara Tertibkan Ratusan Kendaraan Parkir Liar

Fokus tertuju pada potensi absennya grafik proyeksi suku bunga atau dot plot dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.

Selama lebih dari sepuluh tahun, grafik perkiraan pejabat Federal Open Market Committee (FOMC) ini menjadi acuan utama investor.

Data tersebut digunakan untuk membaca arah kebijakan moneter AS ke depan.

Sejumlah ekonom Wall Street memperkirakan Kevin Warsh mungkin tidak menyampaikan proyeksi pribadinya dalam Ringkasan Proyeksi Ekonomi (SEP). Langkah ini dinilai selaras dengan sikap kritisnya selama ini.

Kevin Warsh diketahui kerap mengkritik praktik forward guidance atau panduan kebijakan jangka panjang. Menurut pandangannya, metode tersebut dapat membatasi keleluasaan bank sentral dalam merespons dinamika ekonomi.

Publikasi prediksi ekonomi dan inflasi oleh The Fed dinilai Kevin Warsh berpotensi memicu kekeliruan kebijakan. Hal ini terjadi apabila investor atau pembuat kebijakan terlalu menjadikannya sebagai pegangan mutlak.

Ketika menjalani sidang konfirmasi pencalonan pada April lalu, ia menyoroti kegagalan bank sentral mendeteksi lonjakan inflasi periode 2021-2022.

Kegagalan perkiraan itu memaksa institusi menaikkan suku bunga secara agresif.

Ketergantungan berlebih pada proyeksi jangka panjang dianggap bisa membuat pembuat kebijakan terjebak pada asumsi lama. Padahal, situasi ekonomi riil di lapangan terus mengalami perubahan.

"The Fed adalah manusia. Ketika membuat proyeksi, terkadang mereka mempertahankannya lebih lama dari yang seharusnya," kata Warsh saat itu.