Rupiah Menguat Didorong Intervensi BI hingga Penyesuaian Belanja Negara

Nilai tukar rupiah menunjukkan perbaikan dalam sepekan terakhir. Dalam lima hari perdagangan, mata uang Indonesia menguat sekitar 1,2 persen dan menempati posisi kedua dengan kinerja terbaik di Asia, berada di bawah peso Filipina.

Pergerakan positif tersebut terjadi seiring meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan sementara yang dicapai kedua negara membuka jalan bagi kembali beroperasinya Selat Hormuz, sehingga kekhawatiran terhadap pasokan energi global berkurang dan minat investor terhadap aset negara berkembang kembali meningkat.

Meski demikian, penguatan rupiah tidak hanya dipengaruhi sentimen global. Sejumlah langkah yang ditempuh otoritas moneter dan pemerintah turut memberi dukungan terhadap stabilitas kurs dalam beberapa waktu terakhir.

>>> Pokemon Champions Resmi Tersedia di Playstore, Game RPG Open-World Mobile

Kenaikan Suku Bunga Jadi Penopang Awal

Bank Indonesia mengambil sejumlah langkah untuk menjaga kestabilan pasar keuangan. Selain melakukan intervensi di pasar valuta asing, pasar surat utang, dan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), bank sentral juga menaikkan suku bunga acuan secara preemtif.

Dalam kurun sekitar satu bulan, kenaikan suku bunga mencapai total 75 basis poin. Langkah tersebut membuat imbal hasil aset domestik lebih menarik sehingga membantu menahan arus keluar modal sekaligus membuka peluang masuknya dana asing ke pasar keuangan Indonesia.

Imbal Hasil SRBI Meningkat

Dukungan berikutnya datang dari instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pada lelang 12 Juni 2026, imbal hasil SRBI tercatat mencapai 7,64 persen.

Tingkat imbal hasil yang lebih tinggi mendorong minat investor untuk menempatkan dananya di instrumen domestik. Data Bank Indonesia menunjukkan nilai outstanding SRBI pada Mei 2026 mencapai Rp979,88 triliun, naik 17,1 persen dibandingkan posisi akhir Februari yang sebesar Rp837,22 triliun.