Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berhasil menurunkan premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani pasar global.

Ekspektasi dibukanya kembali Selat Hormuz dan menurunnya risiko gangguan pasokan energi mendorong harga minyak Brent turun ke bawah US$ 100 per barel sejak akhir Mei.

>>> Rupiah Melemah ke Rp 17.753 akibat Tekanan Eksternal dan Domestik

Pada 12 Juni, harga minyak Brent berada di level US$ 86,8 per barel.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri, mengatakan penurunan harga minyak menjadi sentimen positif bagi Indonesia.

Hal ini berpotensi menekan biaya impor, mengurangi tekanan inflasi, dan menurunkan risiko fiskal.

Penurunan harga minyak juga mendukung penguatan rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Ketidakpastian Masih Ada

Meskipun demikian, Novani menilai keberlanjutan reli pasar masih bergantung pada beberapa ketidakpastian.

Implementasi perjanjian, termasuk ketahanan gencatan senjata, pencabutan sanksi, dan normalisasi arus perdagangan energi, akan sangat menentukan apakah sentimen terus membaik.

Risiko eksternal juga belum sepenuhnya hilang, terutama terkait prospek kebijakan Federal Reserve dan keputusan FOMC yang akan datang.

>>> IHSG 17 Juni 2026 Ditutup Melemah ke Level 6.220,74

Faktor-faktor tersebut akan membentuk imbal hasil global, dolar AS, dan arus modal ke pasar negara berkembang.

Di dalam negeri, meredanya kekhawatiran atas klasifikasi pasar Indonesia telah mendukung sentimen menjelang tinjauan MSCI.

Jika Indonesia mempertahankan statusnya sebagai pasar negara berkembang, arus masuk asing dan pemulihan valuasi dapat berlanjut.

Novani percaya pasar masih memiliki ruang untuk maju, meskipun keuntungan kemungkinan tidak akan terdistribusi secara merata di seluruh sektor.

Investor diperkirakan akan tetap selektif, lebih menyukai perusahaan dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan paparan terbatas terhadap ketidakpastian kebijakan.

Saham berkapitalisasi besar seperti BBCA dan TLKM kemungkinan menjadi penerima manfaat utama dari kembalinya arus dana asing.

Sementara itu, saham terkait komoditas tertentu, khususnya produsen logam mulia seperti BRMS, tetap menarik karena ketidakpastian geopolitik yang tersisa terus mendukung harga emas.

>>> Rupiah Melemah ke Rp 17.753 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global dan Domestik

Di sektor konsumen, MYOR dan CMRY terus menonjol karena fundamentalnya yang tangguh, meskipun potensi dampak melemahnya daya beli terhadap pengeluaran konsumen perlu dipantau secara cermat.